Gagasan ini juga mendapat penegasan dari pandangan para cendekiawan Muslim yang menempatkan keteladanan sebagai inti dari kepemimpinan yang membangun. Mengutip Prof. Dr. KH. Quraish Shihab, “Kehadiran pemimpin di tengah ibadah umat adalah simbol keteladanan yang lebih bermakna daripada sekadar pidato di podium.” Maka Safari Subuh bisa dimaknai sebagai strategi keteladanan sosial (social role model) dalam pembangunan berbasis nilai.

Harapan untuk Konsistensi dan Keberlanjutan

Ke depan, program ini perlu terus didorong agar tidak berhenti sebagai kegiatan musiman. Harus ada keberlanjutan, sinergi dengan lembaga dakwah, serta kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya semakin luas. Bahkan, pemerintah dapat menjadikan Safari Subuh sebagai salah satu indikator pendekatan humanis dalam evaluasi kinerja sosial dan spiritual daerah.

Baca juga:  Safari Subuh Pemprov Jambi di Masjid Hidayatullah, Al Haris Serahkan Santunan dan Bantuan untuk Masjid

Lebih dari sekadar program berkelanjutan, Safari Subuh menyimpan makna simbolik yang merepresentasikan kedekatan pemimpin dan rakyat dalam bingkai spiritualitas. Safari Subuh bukan sekadar salat berjamaah. Ia adalah simbol kehadiran negara di tengah masyarakat dalam suasana penuh keikhlasan. Ia adalah pesan bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari sujud yang sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Makna inilah yang seharusnya mendorong kita semua untuk melihat Safari Subuh bukan hanya sebagai program pemerintah, tetapi sebagai panggilan moral yang melibatkan partisipasi seluruh elemen umat. Untuk itu, marilah kita jadikan Safari Subuh sebagai gerakan moral bersama, bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik seluruh umat. Hadir di masjid saat Subuh bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi langkah awal membangun perubahan—dari diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat luas.

Baca juga:  Demi Warga Aur Kenali, Walikota Jambi Harus Tegas Stop Pelanggaran Tata Ruang dan Perusakan Lingkungan

Gerakan ini hanya akan bermakna jika disambut dengan kesadaran bersama, baik oleh para pemimpin maupun masyarakat sebagai dua pilar utama perubahan. Kepada para pemimpin, teruslah hadir bersama umat dengan hati yang tulus. Kepada masyarakat, mari sambut kehadiran pemimpin dengan doa dan semangat membangun bersama. Sebab, dari sajadah yang sama, kita bisa menenun harapan baru untuk negeri ini.

Dari ruang spiritual inilah, benih kepercayaan dan dialog tumbuh tanpa sekat, menjadikan Safari Subuh sebagai medium penyatu antara nurani rakyat dan kepekaan pemimpin. Karena di Subuh yang hening, ada suara rakyat yang jujur, dan ada pemimpin yang mau mendengarkan. Mari kita kuatkan sinergi ini demi Jambi dan Indonesia yang lebih bermartabat.

Baca juga:  Gubernur Al Haris Lepas Kafilah Provinsi Jambi Ikuti MQK Internasional di Sulawesi Selatan

Penulis : Dosen Universitas Muhammadiyah Jambi (Sekretaris PUSDIKLAT LAM Prov. JAMBI)