Mereka tahu betul bahwa rakyat sudah muak dengan korupsi yang tak pernah berhenti, dengan janji-janji yang tak pernah terwujud, dan dengan arogansi kekuasaan. Mereka hanya perlu melempar korek api, dan api yang sudah lama membara di dalam diri kita akan melahap segalanya.
Ini Bukan Sekadar Protes, Ini Revolusi Hati Nurani
Para elit ingin kita percaya bahwa kerusuhan ini tidak rasional, bahwa kita hanyalah korban manipulasi. Mereka mencoba membingkai perlawanan ini sebagai tindakan anarkis yang tidak berakal. Namun, saya tegaskan: sesuatu yang lebih rasional adalah bangkit melawan ketidakadilan yang merusak martabat.
Tuntutan-tuntutan yang muncul reformasi kepolisian, pemotongan tunjangan, keadilan hukum bukanlah hal yang radikal. Itu adalah tuntutan yang paling masuk akal dari masyarakat yang lelah melihat sumber daya negara dijarah oleh segelintir orang.
Revolusi sejati tidak selalu tentang menumbangkan pemerintahan, melainkan tentang menumbangkan pola pikir yang sudah usang. Ini adalah revolusi hati nurani yang menolak untuk diam. Ini adalah perlawanan yang berkata, “Cukup!” pada sistem yang membiarkan kebohongan merajalela, pada para pemimpin yang hanya memikirkan diri sendiri, dan pada ketidakadilan yang dianggap normal.
Bangkitkan Kembali Kendali Kita
Jadi, jangan biarkan mereka memecah belah kita. Jangan biarkan mereka mengadu domba kita dengan narasi hantu. Mari kita arahkan kemarahan kita ke sasaran yang tepat: sistem yang cacat dan para penjaganya yang korup. Mari kita tuntut perubahan fundamental, bukan sekadar perbaikan kosmetik. Ini adalah waktu untuk merebut kembali kendali atas nasib kita, untuk membangun masyarakat yang lebih adil, transparan, dan berpihak pada rakyat.
Kita punya kekuatan, kita punya akal sehat, dan kita punya api yang membara. Biarkan api itu menyala, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk membakar semua kebusukan dan membuka jalan bagi fajar baru.
Penulis: Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Jambi




Tinggalkan Balasan