TANYAFAKTA.CO, MUARO JAMBI – Di sebuah aula sederhana di Jaluko, deretan guru duduk dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu. Di hadapan mereka, layar laptop menyala dengan aplikasi pengolah video TikTok, platform yang selama ini mereka kenal hanya sebagai hiburan siswa.

Namun hari itu, platform tersebut berubah menjadi “ruang kelas baru” yang membuka cara pandang berbeda terhadap pembelajaran digital. Di depan ruangan, Drs. Gugun Manosor Simatupang, M.Si., dosen Universitas Jambi, memulai pelatihan yang akan menghadirkan pengalaman baru bagi para guru: membuat media mobile learning berbantuan AI dengan ilustrasi budaya lokal.

“Siswa ada di dunia digital, maka guru harus menyusul mereka,” ujarnya memecah keheningan. Pelatihan itu bagian dari program Pendampingan dan Pelatihan Pembuatan Media Mobile Learning Berbasis TikTok Berilustrasi Budaya Lokal Berbantuan AI yang digagas tim pengabdian Universitas Jambi. Program ini didukung oleh DPPM Kemdikbudristek melalui Hibah PKM BIMA Tahun 2025 dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Sasaran utamanya jelas: meningkatkan kompetensi digital guru melalui media yang dekat dengan keseharian siswa, yaitu TikTok. Namun pelatihan ini tidak berhenti pada produksi video; ia membawa misi yang lebih besar—mengangkat kembali budaya lokal Jambi ke dalam ruang-ruang belajar generasi muda.

Baca juga:  BEM Universitas Jambi Resmi dilantik, Rektor : Semoga Berjalan dengan Penuh Tanggung Jawab

Di salah satu sudut ruangan, seorang guru bernama Dina (pseudonim) tampak kagum ketika aplikasi AI menghasilkan ilustrasi rumah adat Jambi dalam hitungan detik. “Kalau buat gambar manual bisa satu jam, ini beberapa detik langsung muncul,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Dina, integrasi budaya lokal ke TikTok adalah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Selama ini ia kesulitan membuat materi ajar yang menarik, terutama untuk konsep matematika yang abstrak. Dengan bantuan AI dan ilustrasi budaya, pembelajaran terasa menemukan bentuk baru yang lebih segar dan relevan.

Pendampingan intensif dilakukan oleh dua anggota tim pengabdian, Wardi Syafmen, M.Si. dan Asih Nur Ismiatun, M.Pd.. Mereka berpindah dari satu meja ke meja lain, memastikan setiap guru memahami cara membuat storyboard, memilih audio yang sesuai, menambahkan teks edukatif, dan menggabungkan budaya lokal ke dalam video.

“Intinya bukan viral, tetapi efektif,” kata Wardi ketika menjelaskan cara memilih alur video. Kalimat itu menegaskan bahwa TikTok bukan hanya tentang popularitas, melainkan tentang bagaimana menyampaikan materi pembelajaran dengan jelas, ringkas, dan menarik.

Hasil evaluasi menunjukkan perubahan nyata pada kompetensi guru setelah mengikuti pelatihan. Kemampuan guru dalam memanfaatkan AI melonjak dari 46% menjadi 85%, menunjukkan peningkatan pemahaman digital yang signifikan. Keterampilan menggabungkan ilustrasi budaya lokal dalam video edukatif naik dari 42% menjadi 82%, dan kemampuan membuat alur video yang kreatif meningkat dari 48% menjadi 88%.

Baca juga:  Perkuat Jejaring Internasional, JISIP FH UNJA dan Universitas Ljubljana Gelar Seminar Internasional LOGIC ke-3

Bagi para guru yang sebelumnya ragu menyentuh teknologi, peningkatan ini bukan sekadar angka melainkan bukti bahwa mereka mampu beradaptasi dan berinovasi. Beberapa guru bahkan mengaku ingin membuat akun TikTok edukasi setelah pelatihan berakhir. Lebih penting lagi, kualitas video pembelajaran yang dihasilkan meningkat secara mencolok. Berdasarkan penilaian tim pengabdian, terjadi peningkatan kualitas konten hingga 38%.

Video yang awalnya hanya berupa foto dan teks sederhana kini bertransformasi menjadi media pembelajaran menarik dengan kombinasi ilustrasi budaya, narasi audio, dan transisi yang rapi.

“Anak-anak nanti pasti lebih semangat belajar kalau medianya seperti ini,” ujar seorang guru lain yang tampak bangga melihat videonya sendiri. TikTok yang selama ini dianggap distraksi kini berubah menjadi jembatan untuk memperkuat pembelajaran.

Ketua tim pengabdian, Drs. Gugun Manosor Simatupang, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang berdasarkan kebutuhan nyata guru dalam menghadapi perubahan pola belajar siswa.

“Siswa sekarang lebih cepat menangkap informasi visual dibandingkan ceramah panjang. TikTok memberi ruang bagi guru untuk menyampaikan materi dengan format yang disukai siswa,” jelasnya. Menurutnya, keberhasilan pelatihan bukan hanya pada kemampuan teknis, tetapi pada adanya perubahan paradigma: guru mulai menerima bahwa ruang belajar kini tidak terbatas di papan tulis, tetapi merambah ke gawai siswa.

Baca juga:  Hadiri Wisuda Angkatan III IAIMA Jambi, Maulana Harap Para Wisudawan Mampu Ciptakan Lapangan Kerja

Program ini juga mendapat dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi. Dalam pernyataan resminya, LPPM menegaskan pentingnya menghadirkan pelatihan yang selaras dengan perkembangan digital tetapi tetap mengangkat identitas budaya lokal.

“Budaya lokal harus hadir dalam pembelajaran modern. Teknologi justru bisa menjadi alat untuk melestarikannya,” ujar perwakilan LPPM.

Dukungan penuh dari LPPM memastikan kegiatan berlangsung efektif, sistematis, dan berdampak bagi sekolah-sekolah mitra.

Menjelang akhir pelatihan, suasana berubah lebih hangat. Para guru saling berbagi video hasil karya mereka, tertawa ketika narasi suara tidak sinkron, dan bangga ketika ilustrasi budaya tampil begitu anggun di layar. Bagi mereka, pelatihan ini bukan sekadar mengasah keterampilan, tetapi membangkitkan kepercayaan diri untuk menjadi pendidik yang relevan di era digital.

Tim pengabdian Universitas Jambi berencana membentuk komunitas guru kreatif berbasis AI-TikTok agar inovasi ini terus berlanjut. Dengan demikian, perjalanan guru menuju ruang belajar digital tidak berhenti di pelatihan ini tetapi menjadi bagian dari transformasi pendidikan di Jambi.