“Tutup mata dan pembiaran terhadap investasi yang tidak sesuai perizinan hanya akan memperkaya segelintir kelompok. Investasi hitam tidak pernah membawa kemajuan daerah, justru menjadi sumber konflik dan ketidakadilan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Forum Pengawal Investasi Provinsi Jambi hadir untuk mendorong perubahan paradigma pembangunan, di mana investasi harus menjadi instrumen kesejahteraan bersama, bukan alat eksploitasi yang dibungkus legitimasi semu.
“Forum Pengawal Investasi akan mendorong dan mengawal agar seluruh investasi di Jambi benar-benar pro-rakyat dan membawa kemajuan negeri. Ini adalah komitmen kami sebagai bagian dari masyarakat sipil,” ujar Jefri.
Terkait langkah ke depan, Jefri mengungkapkan bahwa saat ini pengurus Forum Pengawal Investasi Provinsi Jambi tengah mempersiapkan agenda Forum Group Discussion (FGD) dalam waktu dekat. FGD tersebut dirancang sebagai ruang diskusi terbuka dan akademik untuk membahas strategi mendorong iklim investasi yang sehat di Jambi, sekaligus mengkaji secara mendalam berbagai isu investasi yang tengah menjadi diskursus dan polemik di ruang publik.
“FGD ini kami siapkan sebagai ruang dialog yang objektif dan berbasis data. Kami ingin investasi dibahas secara terbuka, rasional, dan berpihak pada kepentingan publik, bukan sebagai alat pembenaran kepentingan kelompok tertentu,” jelasnya.
Melalui forum ini, Jefri berharap ke depan tata kelola investasi di Jambi semakin transparan, adil, dan berkelanjutan, serta mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap arah pembangunan daerah.
“Investasi harus menjadi alat kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Prinsip itulah yang akan terus kami jaga dan kawal melalui Forum Pengawal Investasi Provinsi Jambi,” pungkas Jefri. (*)



Tinggalkan Balasan