Di luar lingkaran itu, Provinsi Jambi sebenarnya memiliki kekuatan ekonomi yang besar jika dilihat secara agregat di 11 Kabupaten Kota, namun belum terkonsolidasi dalam satu pusat pertumbuhan yang dominan.

Jika peta ini diperluas ke Provinsi Jambi, muncul paradoks yang menarik. Secara agregat, total PDRB seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi pada 2024 mencapai sekitar Rp322,98 triliun. Secara nominal, angka ini melampaui nilai ekonomi satu kota besar seperti Medan. Namun kekuatan tersebut tersebar di sembilan kabupaten dan dua kota, tanpa satu pusat yang benar-benar berfungsi sebagai penggerak utama ekonomi regional.

Di dalam Provinsi Jambi sendiri, produktivitas ekonomi antar wilayah tidak merata. Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur mencatat PDRB per kapita tertinggi, didorong sektor komoditas dan aktivitas ekspor primer. Kota Sungai Penuh, Muaro Jambi, dan Batang Hari juga menunjukkan produktivitas relatif kuat. Sebaliknya, Kota Jambi sebagai ibu kota provinsi justru berada pada lapisan menengah. Struktur ekonominya masih didominasi perdagangan eceran, jasa konsumtif, dan aktivitas pemerintahan, dengan kontribusi industri pengolahan dan logistik yang terbatas.

Baca juga:  Alarm Serius Lonjakan Stunting di Provinsi Jambi 

Kondisi ini menunjukkan bahwa Provinsi Jambi memiliki “pulau-pulau kekuatan ekonomi” yang berdiri sendiri, tetapi belum terhubung dalam satu sistem nilai tambah yang utuh. Komoditas unggulan seperti sawit, karet, dan batubara sebagian besar mengalir keluar provinsi tanpa proses hilirisasi berarti di Kota Jambi. Akibatnya, nilai tambah dan efek pengganda ekonomi lebih banyak dinikmati wilayah lain di luar Jambi.

Berbeda dengan Medan, Batam, dan Palembang yang tumbuh melalui konsentrasi fungsi ekonomi, Jambi tumbuh secara horizontal dan terfragmentasi. Secara total, ekonominya besar, tetapi secara struktural lemah karena tidak terpusat. Kota Jambi belum berperan sebagai pusat jasa regional, pusat industri pengolahan, maupun hub logistik Sumatera bagian tengah.

Baca juga:  Sumpah Jabatan: Janji Suci yang Semakin Hampa di Tengah Korupsi yang Merajalela

Peta ini menegaskan bahwa kekuatan ekonomi tidak semata ditentukan oleh besarnya angka PDRB, melainkan oleh kemampuan sebuah wilayah mengonsolidasikan peran dan fungsi ekonominya. Kota-kota besar Sumatera unggul karena fokus dan integrasi. Provinsi Jambi unggul secara agregat, tetapi tertinggal secara struktur.

Selama Kabupaten Kota di Provinsi Jambi belum bertransformasi menjadi simpul nilai tambah yang menghubungkan seluruh kabupaten dan Kota, Provinsi Jambi, namun belum menyusul sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Sumatera. Ini Fakta, kita bukan pusat pertumbuhan ekonomi di region Sumatera sekalipun.