Oleh : Jefri Bintara Pardede
TANYAFAKTA.CO – Salah satu kesalahpahaman paling sering ditemui di kalangan kader Partai Golkar adalah anggapan bahwa faksi identik dengan konflik. Lebih keliru lagi, faksi kerap dipersepsikan sebagai ancaman terhadap soliditas partai. Padahal, jika kita mau jujur belajar dari sejarahnya sendiri, Golkar justru lahir, tumbuh, dan bertahan karena kemampuannya mengelola faksi, bukan meniadakannya.
Golkar sejak awal bukan partai yang lahir dari satu rahim ideologi tunggal. Ia bukan anak kandung satu tokoh, satu aliran, atau satu garis perjuangan sempit. Golkar lahir dari kesadaran kolektif golongan-golongan karya—sebuah kesadaran bahwa negara tidak bisa dikelola hanya dengan retorika politik, tetapi dengan karya nyata dan pengabdian fungsional.
Ketika Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) dibentuk pada 20 Oktober 1964, ia menghimpun berbagai organisasi: birokrat, profesional, pemuda, perempuan, buruh, petani, teknokrat, hingga unsur militer. Sejak titik itu, pluralitas adalah DNA Golkar. Maka menjadi ironis jika hari ini ada kader Golkar yang alergi terhadap perbedaan pandangan di internal partai.
FAKSI: KENISCAYAAN DALAM PARTAI BESAR
Partai sebesar Golkar—dengan sejarah panjang, struktur nasional, dan kader lintas generasi—mustahil steril dari faksi. Faksi bukan penyakit. Ia adalah konsekuensi logis dari keberagaman latar belakang, pengalaman, dan cara pandang kadernya.
Yang membedakan Golkar dari banyak partai lain adalah satu hal sederhana tapi fundamental: faksi di Golkar tidak pernah diberi ruang untuk menjadi sekte ideologis yang memisahkan diri dari rumah besar partai. Sejarah panjang Golkar membuktikan ini dengan tegas: partai ini tidak mengenal netralitas kader, tapi mengenal faksi kader—faksi sebagai dinamika hidup, bukan pemecah belah..
Faksi di Golkar adalah arena dialektika gagasan, bukan medan adu loyalitas. Perbedaan pendapat, strategi, dan pendekatan dijadikan bahan bakar produktif untuk membangun keputusan terbaik. Dan setelah keputusan organisasi diambil, seluruh kader—tanpa terkecuali faksinya—kembali bersatu dalam satu barisan, menunjukkan kedewasaan politik yang jarang dimiliki partai lain.
Singkat kata, di Golkar, faksi bukan ancaman; faksi adalah mesin yang menjaga partai tetap tajam, adaptif, dan solid.
Sejarah membuktikan, Golkar berkali-kali mengalami perbedaan tajam di internal: soal kepemimpinan, arah kebijakan, hingga strategi politik nasional. Namun Golkar tidak runtuh. Mengapa? Karena sejak awal kadernya dididik untuk memahami satu prinsip fundamental: organisasi lebih besar dari ego pribadi dan kelompok.
PANCA BHAKTI GOLKAR: LEM PEREKAT YANG SERING DILUPAKAN
Banyak kader hafal jargon Golkar, tetapi lupa menggali makna ideologisnya. Salah satu yang paling krusial adalah Ikrar Panca Bhakti Golkar. Di sanalah sebenarnya kunci mengapa faksi tidak pernah menjelma menjadi friksi destruktif.




Tinggalkan Balasan