![Ketua Umum APKASI yang juga merupakan Bupati Lahat, Bursah Zarnubi saat memberikan sambutan pada Rakernas VI APKASI di Batam pada Minggu, (18/1/2026). [TanyaFakta.co/Ist]](https://tanyafakta.co/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-19-at-06.45.36-750x500-1.jpeg)
“Kabupaten adalah tulang punggung bangsa. Dari kabupaten lahir ketahanan pangan nasional, pengelolaan sumber daya alam, pelayanan publik, hingga penguatan ekonomi berbasis wilayah,” tegasnya di hadapan para peserta Rakernas.
Rakernas APKASI ke-17 turut dihadiri para gubernur, wali kota, pimpinan DPRD kabupaten/kota, serta perwakilan asosiasi pemerintah daerah lainnya. Kehadiran para kepala daerah tersebut mencerminkan kuatnya solidaritas dan komitmen bersama dalam membangun Indonesia dari daerah.
Dalam forum Rakernas ini, dibahas sejumlah isu strategis yang dihadapi pemerintah kabupaten, di antaranya meningkatnya tuntutan pelayanan publik, keterbatasan fiskal daerah, serta perlunya regulasi yang lebih berpihak pada percepatan pembangunan daerah. Para kepala daerah didorong untuk tidak hanya bergantung pada dana transfer pusat, tetapi juga berani menggali potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara inovatif dan berkelanjutan.
“Daerah harus diberi ruang dan kepercayaan. Jika kabupaten kuat dan mandiri, maka provinsi akan stabil dan Indonesia akan tumbuh lebih cepat serta merata,” tambahnya.
Selain itu, Rakernas menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia, penguatan ekonomi hijau dan ekonomi biru, serta kolaborasi yang erat antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.
Pada kesempatan tersebut, APKASI juga meluncurkan buku berjudul “25 Praktik Terbaik Pemerintah Kabupaten”, yang mendokumentasikan berbagai inovasi dan capaian kabupaten di Indonesia sebagai referensi serta inspirasi dalam meningkatkan tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.
Mengakhiri rangkaian pembukaan, Ketua Umum APKASI secara resmi membuka Rakernas ke-17 APKASI dan mengajak seluruh bupati untuk terus memperkuat integritas, keberanian, serta solidaritas dalam membangun daerah.
“Membangun Indonesia tidak dimulai dari gedung-gedung tinggi di pusat, melainkan dari desa, kecamatan, dan kabupaten yang sejahtera,” pungkasnya. (*)





Tinggalkan Balasan