“Untuk menu hari ini adalah soto,” ujar Akbar singkat, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut terkait dugaan sumber keracunan.

Pernyataan tersebut menuai sorotan publik, mengingat SPPG Sengeti telah beroperasi sejak November 2025, namun insiden dugaan keracunan massal bisa terjadi. Hal ini memunculkan pertanyaan serius terkait pengawasan, standar keamanan pangan, serta kesiapan SPPG dalam menjalankan program yang menyasar siswa tersebut.

Sementara itu, Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno (BBS), usai menjenguk korban, memastikan seluruh pasien akan mendapatkan perawatan maksimal.

“Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi menjamin seluruh biaya perobatan ditanggung pemerintah. Fokus kita saat ini adalah penanganan. Semuanya gratis,” tegas Bambang.

Dari sisi korban, trauma mendalam dirasakan para orang tua. Riska, salah satu orang tua siswa, mengungkapkan anaknya mulai mengalami sakit dada, muntah-muntah, hingga diare setelah pulang sekolah. Awalnya ia mengira anaknya hanya sakit biasa, namun kondisi tak kunjung membaik hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit.

Baca juga:  3 Warga Jambi Tertahan di Kamboja, DPD PDIP Jambi Desak Al Haris Tunaikan Janji

Ia baru menyadari anaknya mengalami keracunan setelah mengetahui anak tetangganya mengalami gejala serupa. Peristiwa ini membuatnya trauma dan khawatir terhadap keberlanjutan program MBG.

“Kalau bisa, tidak usah lagi ada MBG,” ucap Riska, dengan nada cemas.

Untuk diketahui, SPPG Sengeti dibawah Yayasan Aziz Rukiyah Amanah ini melayani 28 sekolah dengan 3400 porsi perharinya. (*)