TANYAFAKTA.CO, TEBO – Suhu politik internal Partai Golkar Kabupaten Tebo kian memanas menjelang bergulirnya Musyawarah Daerah (Musda) DPD Golkar Kabupaten Tebo dalam waktu dekat. Kursi Ketua DPD yang selama ini dikuasai incumbent, Khalis Mustiko, SH, kini mulai mendapat tantangan serius dari kader internal partai sendiri.
Khalis Mustiko yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kabupaten Tebo sekaligus Ketua DPRD Kabupaten Tebo, dikenal sebagai representasi kekuatan politik dari kawasan Rimbo Bujang. Selama beberapa periode terakhir, kawasan ini memang tak tergoyahkan dalam menguasai pucuk kepemimpinan Golkar di Tebo.
Namun dominasi tersebut kini mulai digugat.
Muncul sebagai penantang adalah Mazlan, S.Kom., ME, yang saat ini menjabat Sekretaris DPD Golkar Kabupaten Tebo sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jambi. Politisi Golkar Berasal dari wilayah ilir tepian Sungai Batanghari, Maslan dinilai membawa semangat baru sekaligus representasi wilayah yang selama ini belum pernah menempatkan tokohnya dikursi Ketua DPD Golkar Tebo.
Persaingan dua figur kuat ini disebut-sebut telah menciptakan dinamika internal yang cukup tajam. Konsolidasi di tingkat bawah mulai mengeras, lobi-lobi politik menguat, dan peta dukungan antar kecamatan dikabarkan mulai terbelah.
Sahabat Mazlan Jefri B. Pardede, kader Golkar Provinsi Jambi membenarkan informasi menghangatnya kontestasi tersebut. Ia menilai kemunculan Maslan sebagai penantang merupakan hal yang wajar dan sehat dalam demokrasi internal partai.
“Maslan adalah sosok yang tepat dan mumpuni untuk menjadi pesaing Khalis. Beliau kader tangguh, punya pengalaman, dan harus diberi ruang serta kesempatan untuk maju di arena Musda kabupaten Tebo” ujar Jefri kepada TanyaFakta.co pada Senin, (2/2/2026).
Pernyataan ini kian menguatkan sinyal bahwa Musda Golkar Tebo tidak akan berjalan datar. Justru sebaliknya, pertarungan diprediksi berlangsung ketat dan penuh strategi, dengan masing-masing kubu mulai menyiapkan langkah-langkah taktis untuk mengamankan suara pemilik hak pilih.
Di satu sisi, kubu incumbent diyakini masih mengandalkan kekuatan struktur dan loyalitas kader lama. Di sisi lain, kubu penantang mulai membangun narasi perubahan, pemerataan kepemimpinan wilayah, serta regenerasi partai.
Jika tensi ini terus meningkat, Musda Golkar Kabupaten Tebo berpotensi menjadi arena pertarungan politik paling panas dalam sejarah internal Golkar Tebo.
Semua mata kini tertuju pada satu pertanyaan besar: apakah dominasi Rimbo Bujang akan kembali bertahan, atau sejarah baru akan lahir dari tepian Sungai Batanghari? (*)




Tinggalkan Balasan