“Standar baru tahun 2024 akan diterapkan secara wajib pada bulan Mei mendatang. Audit setelah bulan Mei harus menggunakan standar baru, termasuk memastikan status Independent Smallholder,” jelasnya.

Hal ini menjadi pengingat bagi seluruh anggota RSPO, termasuk PalmCo, agar terus meningkatkan sistem pengelolaan dan kepatuhan terhadap standar global yang terus diperbarui.

Pengakuan dari RSPO dan kalangan akademisi ini juga sejalan dengan kinerja bisnis PalmCo yang terus menunjukkan tren positif.

General Manager Distrik Jawa Barat–Banten PTPN IV Regional 1, Ardiansyah, memaparkan bahwa restrukturisasi perusahaan melalui pembentukan Sub Holding PalmCo dan skema Kerja Sama Operasi (KSO) sejak 2022 telah membawa perubahan signifikan dalam kinerja operasional perusahaan.

Saat ini Distrik Jawa Barat–Banten mengelola wilayah kerja lebih dari 20 ribu hektare, yang tersebar di 7 kebun serta 2 pabrik kelapa sawit (PKS).

Baca juga:  Tepis Stigma Sawit Hanya Soal Minyak Goreng, Elaeis Media Group Bakal Gelar Workshop Bolu dari Sawit di Jambi

Dua PKS tersebut adalah:

PKS Kertajaya dengan kapasitas 60 ton per jam

PKS Cikasungka dengan kapasitas 30 ton per jam

Operasional perkebunan ini didukung oleh lebih dari 2.000 tenaga kerja yang merupakan kolaborasi dari entitas PTPN I dan PTPN IV.

Transformasi manajemen tersebut juga berdampak langsung pada peningkatan produktivitas kebun.

Ardiansyah menjelaskan bahwa sebelum skema KSO diberlakukan, produktivitas kebun pada 2021 hanya mencapai 12,8 ton per hektare.

Namun angka tersebut terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

2024: 15,2 ton per hektare

2025: 16,7 ton per hektare

“Rata-rata kenaikan kita mencapai 1 hingga 2 ton per hektare dalam setahun,” paparnya.

Peningkatan produktivitas ini menjadi indikator penting bahwa transformasi manajemen yang dilakukan perusahaan berjalan efektif.

Baca juga:  PTPN IV Bangun Fasilitas Wudhu dan Toilet Masjid di Muaro Jambi, Jamaah Sambut Antusias

Perbaikan operasional hulu hingga hilir tersebut juga berujung pada peningkatan kinerja keuangan perusahaan.

Ardiansyah menyebut bahwa setelah restrukturisasi dan efisiensi operasional dijalankan, laba perusahaan mengalami lonjakan signifikan.

Pada tahun 2024, PalmCo mencatat laba sebesar Rp422,1 miliar.

Setahun kemudian, pada 2025, perusahaan kembali mencetak rekor laba tertinggi dalam satu dekade terakhir dengan capaian Rp543 miliar.

Kinerja ini menunjukkan bahwa pendekatan keberlanjutan tidak hanya memberikan manfaat lingkungan dan sosial, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi yang kuat bagi perusahaan.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo menegaskan bahwa perusahaan akan terus memperkuat praktik bisnis berkelanjutan sesuai standar RSPO.

Menurutnya, kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga terbukti mampu meningkatkan nilai perusahaan.

Baca juga:  Kontribusi Pajak PTPN IV PalmCo Melonjak, Sentuh Rp7,7 Triliun dalam Tiga Tahun Terakhir

“PalmCo akan terus berkomitmen menjalankan praktik bisnis yang mematuhi standar keberlanjutan yang ditetapkan oleh RSPO,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberlanjutan telah terbukti memberikan dampak positif, baik bagi lingkungan maupun bagi kinerja finansial perusahaan.

“Kami meyakini bahwa kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan bukan hanya menjadi tanggung jawab moral dan tata kelola, tetapi juga terbukti mampu menciptakan nilai tambah serta memberikan dampak finansial yang luar biasa dan berkelanjutan bagi perusahaan,” tutupnya.