TANYAFAKTA.CO — PADANG – Dua bulan setelah banjir bandang menerjang Desa Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kota Padang, kehidupan warga belum sepenuhnya pulih. Keterbatasan air bersih, meningkatnya kasus penyakit kulit, serta akses layanan kesehatan yang belum merata masih menjadi persoalan. Di tengah kondisi tersebut, harapan hadir melalui pendampingan tim dari Universitas Jambi (UNJA) yang membawa pendekatan berbasis sistem, ilmu pengetahuan, dan keberlanjutan.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026, UNJA mendampingi masyarakat Batu Busuk selama satu bulan penuh, sejak 28 Januari hingga 28 Februari 2026. Program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini melibatkan empat dosen, satu tenaga kependidikan, serta 20 mahasiswa dari bidang kedokteran dan keperawatan dalam tim kolaboratif lintas disiplin.
Tim dipimpin Dr. dr. Fitriyanti, Sp.DVE., bersama dr. Huntari Harahap, M.Biomed., Ns. Riska Amalya Nasution, M.Kep., Sp.Kep.J., I Made Dwi Mertha Adnyana, M.Ked.Trop., dan dr. Ghozi Fadlul Ramadhan, S.Ked. Keberangkatan tim dilepas Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNJA, Prof. Amirul Mukminin, S.Pd., M.Sc., Ed., Ph.D. Ia menegaskan bahwa pengabdian tersebut dirancang bukan sebagai respons sesaat terhadap bencana.
“Program ini bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan upaya pemberdayaan berkelanjutan melalui transfer teknologi dan penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi dampak bencana,” ujar Prof. Amirul.
Ketua tim, Dr. dr. Fitriyanti, menjelaskan pendekatan Interprofessional Education (IPE), yakni model kolaborasi lintas profesi dalam pelayanan kesehatan. Mahasiswa kedokteran menangani aspek diagnostik dan pemantauan gizi, mahasiswa profesi dokter melakukan triase klinis serta konsultasi telemedicine, sedangkan mahasiswa keperawatan berfokus pada sanitasi lingkungan dan perawatan rumah.
Salah satu inovasi unggulan yang dibawa tim adalah Smart Stunting Detection System berupa paket antropometri digital berbasis Bluetooth yang memungkinkan pemantauan status gizi balita secara presisi dan real time.
“Penggunaan Antropometri Kit Digital memungkinkan kami membedakan secara presisi antara stunting yang kronis dan wasting yang akut perbedaan yang menentukan pilihan intervensi gizi yang tepat dan efektif,” ujar dr. Huntari Harahap selaku ahli gizi tim.
Selain aspek gizi, kebutuhan mendesak lain pascabanjir adalah ketersediaan air bersih. Untuk itu, tim UNJA memasang WASH Station, unit filtrasi air berbasis teknologi Reverse Osmosis (RO) dan Ultraviolet (UV). Dengan kapasitas produksi hingga 400 galon per hari, fasilitas ini menyediakan air minum layak konsumsi yang dapat langsung diminum dan bebas dari cemaran mikroba.
“WASH Station bukan sekadar alat penghasil air bersih. Alat ini adalah infrastruktur kesehatan komunitas yang, begitu terpasang dan diserahkan sebagai aset BMN, akan menjadi tulang punggung sanitasi warga setempat dalam jangka panjang. Air yang dihasilkan dapat langsung diminum dan terbebas dari cemaran mikroba,” ungkap Ns. Riska Nasution, Koordinator Sanitasi dan Trauma Healing.
Pemeriksaan kualitas mikrobiologis air ditargetkan rampung sebelum 21 Februari 2026 sebagai indikator keberhasilan teknologi yang diterapkan. Sementara itu, layanan kesehatan juga menjangkau kelompok rentan melalui Posyandu Lansia dengan pendekatan Tele-Triage & Home Care Kit, yakni perangkat diagnostik digital portabel yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan langsung di rumah warga lanjut usia.
Apresiasi disampaikan Lurah Lambung Bukit, Andi Defriyan. Ia menilai kehadiran UNJA tidak hanya membantu pemulihan kesehatan warga, tetapi juga membangun ketangguhan masyarakat.
“Program ini membangun kapasitas masyarakat kami untuk lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan. Kami berharap kerja sama ini dapat berlanjut untuk mendukung pembangunan masyarakat yang berkelanjutan dan memulihkan kondisi warga akibat bencana ini,” harapnya.
Program ini juga berdampak pada sektor pendidikan. Di SD Bustanul Ulum Semen Padang, mahasiswa UNJA memberikan edukasi mitigasi bencana dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada siswa dan guru. Pengetahuan pertolongan pertama serta kesiapsiagaan bencana yang sebelumnya minim kini menjadi bekal penting bagi lingkungan sekolah.
“Pengetahuan tentang mitigasi bencana dan pertolongan pertama sangat kurang di lingkungan sekolah kami. Kehadiran tim mahasiswa berdampak UNJA memberikan pencerahan sekaligus keterampilan praktis yang sangat bermanfaat,” ungkap Eli Martinda, Kepala Sekolah SD Bustanul Ulum.
Menjelang akhir program, tim memastikan seluruh fasilitas dan sistem yang telah dipasang dapat dikelola secara mandiri oleh warga serta kader setempat. Kehadiran mahasiswa dan dosen UNJA di wilayah terdampak bencana ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan di ruang kelas, tetapi juga hadir menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, poin 6 tentang air bersih dan sanitasi, serta poin 13 tentang penanganan perubahan iklim sebuah ikhtiar kolektif yang menunjukkan bahwa sains, empati, dan kolaborasi dapat berjalan beriringan, bahkan di tengah lumpur sisa banjir. (*)





Tinggalkan Balasan