TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Puluhan penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Provinsi Jambi menghadiri kegiatan buka puasa bersama yang digelar Yayasan Rumah Mans Indonesia di Restoran LemonGrass, Kota Jambi, Selasa (10/3/2025) malam.
Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut terasa semakin istimewa karena dihadiri langsung oleh pendiri Rumah Mans Indonesia, Abdullah Mansuri atau yang akrab disapa Ayah Mans. Kehadirannya di tengah para anggota komunitas disambut dengan antusias dan haru.
Ayah Mans mengatakan kedatangannya ke Jambi disambut hangat oleh para anggota komunitas yang datang dari berbagai daerah hanya untuk bersilaturahmi.
“Hal itu dibuktikan dengan antusiasnya para anggota komunitas ini berkumpul dari berbagai daerah ke tempat bukber ini hanya sekadar bertemu saya dan kawan-kawan yang lainnya,” ujarnya.
Ia mengaku sangat mengapresiasi semangat para anggota Rumah Mans di Jambi yang terus menumbuhkan inspirasi dan kreativitas di dalam komunitas tersebut.
“Mereka semangatnya luar biasa. Mereka sama seperti kita, ingin hidup sebagaimana mestinya,” tuturnya.
Adapun saat ini anggota komunitas Rumah Mans di Provinsi Jambi diketahui berjumlah sekitar 100 orang dengan berbagai karya dan aktivitas kreatif.
“Mereka ini karyanya macam-macam, ada yang merajut, menyanyi, fotografi, dan lain-lain,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Rumah Mans hadir untuk menumbuhkan kembali semangat para penyandang disabilitas agar keberadaan mereka dihargai.
“Semangat itu kita tumbuhkan kembali di Rumah Mans ini. Keberadaan mereka harus kita hargai,” tambahnya.
Kisah Perjuangan Anggota
Salah satu anggota komunitas, Rita, penyandang disabilitas asal Kabupaten Muaro Jambi, menceritakan bahwa Rumah Mans memiliki arti besar dalam hidupnya. Rita yang mengalami kelumpuhan hanya dapat duduk dan berbaring dalam aktivitas sehari-hari.
Ia mengaku sebelum bergabung dengan komunitas tersebut sering menjadi sasaran hinaan dan perundungan, terutama di media sosial.
“Sebelum gabung ke komunitas ini, saya sering dihina dan dibully, terutama di media sosial. Hal itu membuat saya tidak percaya diri,” ungkap Rita.
Namun setelah bergabung dengan Rumah Mans, ia merasa lebih dihargai dan kembali menemukan rasa percaya diri.
“Saya jadi berani live di TikTok untuk mempromosikan karya saya, yaitu rajutan seperti tas kecil, tempat tisu, dan lain-lain,” katanya.
Dari kegiatan tersebut, Rita kini bahkan mampu memperoleh penghasilan dan berbagi dengan teman-temannya.
“Dari yang sebelumnya tidak punya penghasilan, sekarang saya bahkan bisa berbagi kepada kawan-kawan lain,” ujarnya.
Cerita serupa juga disampaikan Siti, anggota lainnya yang mengaku kehidupannya berubah sejak bergabung dengan komunitas Rumah Mans.
“Dulu untuk mandi beli sabun saja susah. Sekarang Alhamdulillah di Rumah Mans saya bisa berkarya dan bisa mandiri,” ungkapnya.
Ia pun mengajak penyandang disabilitas di Provinsi Jambi untuk bergabung bersama komunitas tersebut.
“Kawan-kawan, mari bergabung. Di sini kita punya Ayah yang menyayangi kita,” ajaknya.
Panggilan Hati Mendirikan Rumah Mans
Sementara itu, Abdullah Mansuri menjelaskan bahwa saat ini anggota Rumah Mans Indonesia telah mencapai sekitar 1.500 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Ia mengatakan bahwa komunitas ini mulai berdiri sekitar lima tahun lalu dan baru membuka diri secara luas akhir-akhir ini kepada publik setelah memiliki merasa kuantitas dan kualitas komunitasnya sudah berdampak.
“Sejak berdiri lima tahun lalu, kami baru membuka diri ke publik setelah kami berjumlah banyak, mandiri, dan bisa berdampak bagi masyarakat lain,” jelasnya.
Ia juga menceritakan awal mula dirinya terdorong mendirikan Rumah Mans Indonesia. Sekitar tahun 2016, ia bertemu seorang perempuan bernama Tia di Medan yang mengalami kelumpuhan.
Tia meminta Mansur menjadi sosok ayah baginya agar ia memiliki semangat untuk bangkit dan kembali berjalan.
“Saya semangati dia. Dari yang awalnya lumpuh, dia akhirnya bisa berdiri dan berjalan dalam waktu sekitar satu setengah tahun,” ungkapnya.
Bahkan saat Mansur kembali berkunjung ke Medan, Tia berhasil menyambutnya dengan berlari dan memeluknya.
Peristiwa tersebut kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan membuat Mansur bertemu dengan banyak penyandang disabilitas lainnya yang memiliki kisah perjuangan serupa.
“Dari situ saya akhirnya memutuskan membuat tempat bagi mereka untuk saling bertemu dan menguatkan, yaitu Rumah Mans Indonesia,” tuturnya.
Ia menilai banyak penyandang disabilitas yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang, bahkan dari lingkungan terdekat mereka.
“Banyak yang kehilangan sosok ayah, ada yang dibuang, dititipkan, bahkan terpaksa mengemis di pinggir jalan,” ujarnya.
Karena stigma masyarakat yang menganggap disabilitas sebagai “kutukan”, tidak sedikit dari mereka yang bahkan takut keluar rumah.
Melalui Rumah Mans Indonesia, Mansur berupaya mengubah stigma tersebut dengan menghadirkan ruang kasih sayang dan dukungan.
“Kita berbagi kasih sayang dan ketulusan di sini. Akhirnya mereka kembali percaya diri layaknya masyarakat pada umumnya,” katanya.
Ia berharap melalui Rumah Mans, penyandang disabilitas dapat bangkit dan mandiri.
“Melalui Rumah Mans ini sudah saatnya penyandang disabilitas bangkit, berjuang, dan mandiri,” tegasnya.
Di beberapa daerah, kata dia, anggota komunitas Rumah Mans bahkan telah berhasil menjadi atlet, penyanyi, penulis hingga pejabat.
“Semua itu bisa diraih karena semangat mereka yang luar biasa dan harus terus dijaga,” pungkasnya. (AAS)




Tinggalkan Balasan