“Efisiensi bisnis dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan. Keduanya kami dorong sebagai motor pertumbuhan perusahaan,” kata Jatmiko.
Dukungan terhadap transformasi tersebut juga disampaikan anggota Komisi VI DPR RI, Nasril Bahar, yang menilai perbaikan tata kelola di tubuh PTPN menjadi indikator positif di tengah tantangan industri global.
“Ini menunjukkan bahwa langkah transformasi mulai berjalan efektif,” ujarnya.
Selain fokus pada pengurangan emisi, PalmCo juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui pengembangan energi terbarukan. Hingga tahun 2030, perusahaan merencanakan pembangunan 36 fasilitas energi baru, termasuk pembangkit listrik tenaga biogas dan compressed biomethane gas (CBG).
Program tersebut diproyeksikan mampu menekan emisi hingga 54,46 persen dibandingkan skenario business as usual pada 2030.
Penguatan ESG di sektor perkebunan dinilai menjadi salah satu kunci untuk menjawab tekanan global terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Di sisi lain, langkah ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam industri kelapa sawit yang lebih modern dan transparan.
Dengan dukungan legislatif serta konsistensi implementasi di tingkat operasional, transformasi BUMN perkebunan diharapkan tidak hanya meningkatkan kinerja korporasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. (*)





Tinggalkan Balasan