TANYAFAKTA.CO, MUARO JAMBI – Perjalanan menuju puncak karier akademik tertinggi bukanlah proses yang instan. Bagi Guru Besar Fakultas Hukum (FH) Universitas Jambi (UNJA), Prof. Dr. A. Zarkasi, S.H., M.Hum., yang resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Hukum pada 25 Mei 2026, pencapaian tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang yang ditempuh dengan konsistensi, integritas, dan keteguhan menghadapi berbagai keterbatasan.
Dalam prosesi pengukuhannya, Prof. Zarkasi menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Hukum Kepemiluan sebagai Pilar Demokrasi Konstitusional: Refleksi dan Rekonstruksi Sistem Pemilu di Indonesia”, yang mengangkat isu strategis terkait masa depan demokrasi Indonesia.
Lahir di Desa Lopak Aur, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, Jambi, pada 11 April 1964, Prof. Zarkasi tumbuh di lingkungan yang serba terbatas. Pada era 1970 hingga 1990-an, desa tempat tinggalnya masih tergolong terpencil dengan kondisi infrastruktur yang minim dan tingkat perekonomian masyarakat yang rendah.
Namun, keterbatasan tersebut justru menjadi ruang yang membentuk ketahanan mental dan kemampuan adaptasinya sejak dini. Baginya, pendidikan merupakan jalan utama untuk memutus mata rantai kemiskinan yang dialami keluarga secara turun-temurun.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi S1 Ilmu Hukum di Universitas Jambi, kemudian meraih gelar Magister Ilmu Hukum di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Selanjutnya, ia menuntaskan pendidikan doktoral di bidang Ilmu Hukum di Universitas Jambi.
Ketertarikannya pada dunia hukum lahir dari kegelisahan melihat berbagai ketimpangan dalam penegakan hukum yang dinilai belum sepenuhnya menghadirkan keadilan, kepastian, dan kemanfaatan bagi masyarakat.
“Hukum tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai instrumen rekayasa sosial yang mampu mendorong perubahan ke arah yang lebih baik,” ujar Prof. Zarkasi.
Selama menempuh pendidikan, ia mengaku menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kompleksitas kajian hukum yang terus berkembang hingga kesulitan membagi waktu antara aktivitas organisasi dan perkuliahan. Namun, berbagai tantangan tersebut justru memperkuat integritas dan komitmennya dalam dunia akademik.
Karier akademiknya dimulai dari bawah sebagai dosen pemula. Seiring perjalanan waktu, ia menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi standar riset dan tuntutan birokrasi akademik. Baginya, jabatan Guru Besar bukan sekadar pencapaian personal, melainkan amanah moral yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
“Proses menuju gelar Guru Besar atau Profesor merupakan kulminasi dari konsistensi intelektual dan integritas moral yang teruji oleh waktu. Jabatan ini bukanlah akhir dari pencarian, melainkan amanah untuk menjadi lokomotif peradaban melalui kepemimpinan akademik dan bimbingan terhadap generasi penerus,” ujarnya.
Selama puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan, Prof. Zarkasi memegang teguh prinsip bahwa kecerdasan intelektual tidak akan berarti tanpa keteguhan hati, kesabaran, dan tawakal. Berbagai pengalaman pahit, termasuk keraguan dan penolakan yang pernah dihadapinya, dijadikan sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan hidup.
Salah satu prinsip hidup yang selalu dipegangnya adalah:
“Jadilah diri sendiri, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, dengan rendah hati.”
Di ruang kuliah, ia selalu berupaya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada para mahasiswa. Baginya, ilmu pengetahuan harus memberikan manfaat bagi sesama.
“Ilmu harus memanusiakan, bukan meninggikan,” tegasnya.
Menyoroti perkembangan generasi muda saat ini, Prof. Zarkasi mengingatkan mahasiswa agar tidak terlena dengan kemudahan teknologi digital yang dapat mengurangi daya kritis dan semangat belajar.
Ia menilai mahasiswa perlu lebih banyak membaca karya-karya asli para pemikir besar, melatih kemampuan berpikir kritis, serta memanfaatkan masa muda untuk berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat.
Menutup refleksi perjalanan hidupnya, Prof. Zarkasi menegaskan bahwa keberhasilan sejati bukan diukur dari jabatan, materi, maupun popularitas, melainkan dari kemampuan seseorang memberi manfaat bagi orang lain dan menemukan kedamaian dalam hidupnya.
Mengutip berbagai pemikiran filsuf seperti Jean-Paul Sartre, Friedrich Nietzsche, hingga ulama besar Imam Al-Ghazali, ia menekankan bahwa makna hidup dibangun melalui keberanian untuk menjadi diri sendiri secara utuh.
“Pada akhirnya, keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri, menerima masa lalu, menjalani masa kini, dan melangkah ke depan dengan hati yang tetap percaya, meskipun tidak selalu mengerti,” pungkasnya.
Sumber : Resmi Dikukuhkan Jadi Guru Besar FH UNJA, Prof. Zarkasi: Ilmu Harus Memanusiakan, Bukan Meninggikan





Tinggalkan Balasan