TANYAFAKTA.CO, MUARO JAMBI — Anggota DPRD Muaro Jambi, Syafri Hasibuan, meminta perusahaan pengelola stokpile pasir di Desa Penyengat Olak, Kecamatan Jambi Luar Kota, segera mengambil langkah konkret menyikapi keresahan masyarakat.

Desakan tersebut disampaikan menyusul keluhan warga RT 03 Desa Penyengat Olak yang mengaku bertahun-tahun terdampak aktivitas stokpile pasir. Warga mengeluhkan debu yang beterbangan hampir setiap hari hingga dugaan kerusakan pada sejumlah rumah.

Syafri menilai persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut. Menurutnya, aktivitas usaha harus tetap memperhatikan kondisi sosial dan kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

“Secara sosial, kondisi ini tentu meresahkan masyarakat. Dampak debunya, apalagi saat musim kemarau, sangat mengganggu. Perusahaan yang bersangkutan sebaiknya segera mencari solusi agar masyarakat tidak terus menjadi pihak yang menanggung dampaknya,” kata Syafri.

Ia juga mendorong pemerintah tidak hanya menerima laporan masyarakat, tetapi segera melakukan langkah nyata untuk mencari penyelesaian atas persoalan yang disebut telah berlangsung bertahun-tahun tersebut.

“Masyarakat berhak mendapatkan lingkungan yang aman dan nyaman. Pemerintah harus hadir, sementara perusahaan juga harus bertanggung jawab dengan mencari solusi yang dapat mengurangi dampak terhadap warga,” tegasnya.

Warga Keluhkan Dampak Aktivitas Stokpile

Keluhan warga menjadi perhatian Syafri setelah masyarakat mengungkapkan berbagai dampak yang mereka rasakan dari aktivitas stokpile pasir.

Salah seorang warga, Eri, mengaku rumah kakaknya dan rumah orang tuanya mengalami keretakan pada dinding. Pergeseran genteng juga disebut menyebabkan rumah mengalami kebocoran saat hujan.

Eri menduga kerusakan tersebut berkaitan dengan aktivitas stokpile pasir yang lokasinya berada sangat dekat dengan permukiman.

“Rumah kakak dan orang tua saya retak. Genteng juga bergeser sehingga kalau hujan bocor. Kami menduga ini akibat aktivitas stokpile pasir yang lokasinya sangat dekat dengan rumah,” ujarnya.

Selain persoalan rumah, warga di sepanjang jalan menuju lokasi stokpile juga mengeluhkan debu yang beterbangan akibat lalu lintas kendaraan dan aktivitas operasional.

“Tiap hari kami makan debu. Debunya sampai masuk ke dalam rumah,” keluh Eri.

Syafri Minta Pemerintah dan Perusahaan Bertindak

Eri mengatakan, pada awal perusahaan beroperasi, jalan menuju lokasi stokpile masih rutin disiram untuk mengurangi debu. Namun, menurutnya, upaya tersebut kini sudah lama tidak dilakukan.

“Awal mula sering disiram. Sekarang tidak pernah lagi,” katanya.

Berbagai keluhan, kata Eri, telah disampaikan kepada pemerintah desa. Namun hingga kini, warga mengaku belum melihat adanya penyelesaian maupun langkah konkret yang mampu mengurangi dampak aktivitas stokpile.

Syafri menegaskan, pemerintah dan perusahaan perlu segera duduk bersama mencari solusi. Ia meminta kepentingan ekonomi tidak berjalan dengan mengorbankan kenyamanan masyarakat sekitar.

Menurutnya, penyelesaian persoalan tersebut penting agar aktivitas usaha tetap berjalan, tetapi dampaknya terhadap warga dapat diminimalkan.