TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata, mengingatkan seluruh jajaran pemerintah, Satgas Karhutla, perusahaan dan masyarakat agar tidak menurunkan kewaspadaan setelah hotspot kembali meningkat tajam pada awal September 2026.
Berdasarkan Laporan Situasi Karhutla Provinsi Jambi per Kamis, 3 September 2026 pukul 19.00 WIB, terpantau 258 hotspot pada periode pukul 00.00–16.00 WIB. Angka tersebut meningkat dibanding 2 September yang tercatat 182 hotspot.
Secara kumulatif, hotspot Jambi sepanjang 2026 telah mencapai 5.417 titik, sementara estimasi luas lahan terbakar mencapai sekitar 1.879,31 hektare.
“Lonjakan ini membuktikan kita belum boleh demobilisasi. Beberapa hari lalu hotspot sempat turun sangat rendah, sekarang kembali 258 titik. Artinya Karhutla masih sangat dinamis dan kesiapsiagaan harus dipertahankan,” kata Ivan.
Tebo Jadi Episentrum Baru
Data Satgas menunjukkan Tebo mencatat 85 hotspot, tertinggi pada 3 September. Selanjutnya Tanjung Jabung Timur 51 titik, Muaro Jambi 46 titik, Sarolangun 30 titik dan Tanjung Jabung Barat 23 titik.
Ivan menilai kondisi tersebut menunjukkan pusat risiko harian dapat berpindah dengan cepat.
“Operasi tidak boleh statis. Hari ini Tebo menjadi titik utama, besok bisa bergeser. Posko, personel, water bombing dan sumber air harus bergerak mengikuti data lapangan secara real-time,” ujarnya.
Namun secara kumulatif, Sarolangun masih menjadi wilayah dengan hotspot terbesar sebanyak 1.300 titik, diikuti Tanjung Jabung Barat 974 titik dan Muaro Jambi 894 titik.
Ketiga daerah tersebut menyumbang sekitar 58,5 persen dari seluruh hotspot Jambi.
Karena itu Ivan meminta pemerintah membedakan antara prioritas operasi harian dan prioritas risiko struktural.
Luas Terbakar Capai 1.879 Hektare
Selain hotspot, Ivan memberikan perhatian serius terhadap perkembangan luas lahan terbakar.
Laporan Satgas mencatat estimasi luas Karhutla mencapai ±1.879,31 hektare. Sarolangun tercatat sekitar 473,64 hektare, Batanghari 470,25 hektare, Muaro Jambi 325,38 hektare, Tanjung Jabung Barat 292,30 hektare, dan Tanjung Jabung Timur 189,63 hektare.
Ivan meminta setiap perubahan angka luas kebakaran disertai verifikasi spasial yang jelas.
“Kita harus tahu apakah penambahan luas merupakan kebakaran baru atau hasil pembaruan pemetaan kejadian sebelumnya. Data hotspot, firespot dan polygon area terbakar harus terintegrasi agar kebijakan kita benar-benar berbasis fakta,”katanya.
Menurutnya, ukuran keberhasilan tidak cukup dengan melihat jumlah hotspot turun atau naik.
Yang lebih penting adalah mengetahui berapa hotspot berkembang menjadi kebakaran, berapa luas yang terbakar, berapa luas yang berhasil diselamatkan, dan apakah terjadi kebakaran ulang setelah pendinginan.
Muaro Jambi, Tebo dan Kota Jambi Masih Tidak Sehat. Karhutla juga masih berdampak terhadap kualitas udara.
Laporan 3 September mencatat ISPU Muaro Jambi 159, Tebo 151 dan Kota Jambi 116, seluruhnya masuk kategori Tidak Sehat. Sementara Tanjung Jabung Timur berada pada ISPU 78 atau kategori Sedang.
Ivan mengatakan situasi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan Karhutla harus berjalan pada dua jalur sekaligus.
“Kita harus punya Fire Dashboard untuk melihat api dan Smoke-Health Dashboard untuk melihat dampaknya kepada masyarakat. Hotspot dan asap tidak selalu berada di lokasi yang sama karena asap bergerak mengikuti angin,” tutur Ivan.
Ia meminta layanan kesehatan, Puskesmas dan rumah sakit tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan serta memastikan informasi kualitas udara mudah diakses masyarakat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan