Ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah kerja sama tidak hanya diukur dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA), melainkan dari implementasi program yang menghasilkan manfaat nyata melalui Implementation Arrangement (IA).

“Selama ini banyak hasil penelitian yang hanya tersimpan di lemari. Penelitian dan kerja sama harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Jangan berhenti pada penandatanganan MoU dan MoA, tetapi lanjutkan melalui implementasi program yang nyata,” jelasnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang membahas strategi penyusunan proposal berdasarkan program kerja sama yang telah dilaksanakan agar menghasilkan proposal yang berdampak.

Menanggapi berbagai pertanyaan peserta, Suryo Boediono menjelaskan bahwa kualitas proposal tidak ditentukan oleh banyaknya kerja sama yang dimiliki suatu perguruan tinggi, melainkan oleh kemampuan menyusun narasi yang fokus, menunjukkan dampak nyata, serta didukung data yang relevan.

Baca juga:  Refleksi 36 Tahun GMKI Jambi di tanah Sepucuk Jambi Sembilan Lurah 

Melalui Coaching Clinic ini, Universitas Jambi diharapkan semakin memperkuat implementasi IKU 5 sekaligus meningkatkan kualitas penyusunan proposal dan pengelolaan kerja sama yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (*)