“Film ini mengandung nilai edukasi tentang adat dan budaya. Karena itu saya berharap melalui Dinas Pendidikan, film ini dapat diputar di seluruh sekolah di Kota Jambi sebagai upaya mendorong minat, kreativitas, dan kecintaan anak-anak terhadap dunia perfilman,” ujarnya.
Selain itu, Maulana mengungkapkan bahwa mulai tahun depan Pemerintah Kota Jambi akan menjalankan program unggulan Kampung Bahagia yang berfokus pada pengembangan kampung-kampung wisata berbasis budaya.
“Kita memiliki banyak potensi yang tidak dimiliki daerah lain. Potensi tersebut akan kita kembangkan menjadi destinasi wisata dan dipromosikan melalui perfilman maupun media sosial agar menjadi daya tarik daerah,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa industri perfilman merupakan salah satu sektor yang berpotensi mendorong kemajuan Kota Jambi seiring pesatnya pembangunan.
“Kami akan terus mendukung. Teruslah berkreasi demi mewujudkan Kota Jambi Bahagia,” tutup Maulana.
Terpisah, Eksekutif Produser film “Panggil Aku Kulup”, Rachmadi, mengatakan film tersebut menjadi salah satu upaya untuk menghidupkan kembali panggilan kekerabatan khas Jambi, yaitu “kulup”, yang kini mulai jarang digunakan.
“Padahal dahulu, ‘kulup’ merupakan panggilan orang tua di Jambi kepada anak laki-laki yang masih kecil,” ujarnya.
Sedangkan untuk anak perempuan, lanjut Rachmadi, masyarakat Jambi mengenal sapaan “supik”.
“Selain menyampaikan pesan moral kehidupan, kami juga ingin mengangkat dan membumikan kembali panggilan kekerabatan ini sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya Jambi,” pungkasnya. (AAS)





Tinggalkan Balasan