“Inovasi harus terus dilakukan. Batik kontemporer tetap berakar pada budaya Indonesia, namun tampil lebih modern sehingga mampu mengikuti perkembangan selera pasar,” tambahnya.
Hesti juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Dekranas Pusat atas dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut sebagai upaya meningkatkan kompetensi generasi muda, khususnya mereka yang belum melanjutkan pendidikan formal, agar memiliki keterampilan dan peluang berwirausaha.
Lebih lanjut, Hesti berpesan kepada seluruh peserta agar terus berkarya dan menjaga kualitas produk. Menurutnya, keberhasilan usaha akan ditentukan oleh kualitas hasil karya yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Orang membeli bukan karena rasa kasihan, tetapi karena produk yang dihasilkan memang berkualitas. Karena itu teruslah belajar, berinovasi, dan menjaga mutu setiap karya yang dibuat,” pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Hesti juga mengungkapkan bahwa hasil karya para peserta akan dipromosikan dalam rangkaian Syukuran Dekranasda Provinsi Jambi, yang menjadi momentum memperkenalkan wastra, kriya, dan produk unggulan dari para perajin seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.
Melalui kegiatan tersebut, Dekranasda Provinsi Jambi berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal dan mencintai produk kerajinan daerah, sehingga mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM sekaligus memperkuat pelestarian budaya bangsa.
“Tujuan utama kita adalah meningkatkan ekonomi para pelaku UMKM melalui pengembangan wastra dan kriya daerah. Di sisi lain, kita juga terus mengangkat budaya Indonesia. Batik adalah identitas bangsa yang harus terus kita lestarikan dan banggakan sebagai karya anak negeri,” tutup Hesti Haris. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan