Ia mencontohkan pengelolaan kawasan Borobudur dan Prambanan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pasar budaya, festival, hingga kegiatan ekonomi kreatif.
“Kesiapan sumber daya manusia juga harus dipersiapkan. Ekosistemnya perlu dibangun bersama-sama agar keberadaan kawasan ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Seperti Borobudur yang memiliki pasar budaya dan berbagai festival, Muaro Jambi juga harus berkembang ke arah itu,” jelasnya.
Menurut Fadli Zon, Museum Sriwijaya Dharmakirti ke depan diharapkan menjadi pusat kegiatan budaya yang menghadirkan berbagai festival, perpustakaan, ruang edukasi, etalase warisan budaya tak benda, promosi kuliner khas Jambi, hingga pusat suvenir dan teknologi imersif yang memperkenalkan sejarah Jambi kepada masyarakat luas.
Turut hadir dalam peresmian tersebut Gubernur Jambi Al Haris, jajaran Forkopimda Provinsi Jambi, Bupati Muaro Jambi, Ketua TP PKK Provinsi Jambi Hesnidar Haris, Wakil Ketua TP PKK Iin Kurniasih, serta Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa pembangunan museum dilakukan melalui proses yang terencana sejak revitalisasi kawasan dimulai pada 2022.
Menurutnya, pembangunan museum di atas lahan seluas 29 hektare diawali dengan uji tanah arkeologi untuk memastikan seluruh proses konstruksi tidak merusak struktur cagar budaya yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Melalui peresmian Museum Sriwijaya Dharmakirti, Kementerian Kebudayaan berharap kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi semakin berkembang sebagai pusat pelestarian sejarah, penelitian, pendidikan, serta destinasi budaya yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan