“Kami lebih memilih mengurangi debit produksi daripada memaksakan distribusi air yang kualitasnya belum maksimal. Komitmen kami adalah memastikan air yang sampai ke rumah pelanggan tetap jernih, aman, dan layak digunakan,” tegasnya.

Ia menyebutkan penyesuaian debit produksi diperkirakan tidak melebihi 20 persen. Dampaknya paling dirasakan pelanggan yang berada di ujung jaringan distribusi maupun kawasan dengan elevasi tinggi, seperti Mayang Ujung, Kompleks BCL, dan beberapa wilayah perbatasan jaringan teknis lainnya yang mengalami pengurangan jam layanan.

Meski demikian, PDAM Tirta Mayang memastikan tidak ada penghentian distribusi air secara total. Seluruh instalasi pengolahan tetap beroperasi dengan penyesuaian kapasitas agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

Sebagai langkah antisipasi, manajemen PDAM Tirta Mayang juga telah menyiapkan sejumlah upaya sesuai arahan Wali Kota Jambi untuk menjaga pelayanan publik.

Untuk penanganan jangka pendek, direksi telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Tim Kesiapsiagaan Darurat Air. Tim tersebut bertugas menyalurkan air bersih secara gratis menggunakan mobil tangki kepada pelanggan yang terdampak penurunan debit, dengan kapasitas distribusi hingga 18 perjalanan setiap hari.

Sementara itu, untuk solusi jangka menengah, PDAM Tirta Mayang akan mengadakan pompa fleksibel yang mampu menyesuaikan perubahan tinggi muka air Sungai Batanghari selama musim kemarau. Selain itu, pipa intake akan diperpanjang hingga ke bagian tengah aliran sungai agar memperoleh sumber air baku yang lebih stabil dan tidak terpengaruh endapan lumpur di tepian sungai.

Melalui berbagai langkah tersebut, PDAM Tirta Mayang menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kualitas pelayanan di tengah kondisi alam yang tidak menentu. Manajemen berharap masyarakat dapat memahami penyesuaian yang dilakukan karena seluruh kebijakan tersebut bertujuan memastikan air bersih yang diterima pelanggan tetap memenuhi standar mutu, aman digunakan, dan layak dikonsumsi. (*)