Ia menilai, prinsip tersebut juga memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut muncul akibat perbuatan tangan manusia, sebagaimana disebut dalam QS. Ar-Rum ayat 41.
Ayat tersebut, menurut Noviardi, relevan dijadikan refleksi dalam melihat persoalan lingkungan: kerusakan ekologis tidak selalu tepat jika hanya dipandang sebagai fenomena alam, sebab aktivitas manusia dapat menjadi faktor penting yang memperparahnya.
“Ini bukan soal mempertentangkan doa dengan kebijakan. Justru keduanya harus berjalan. Doa adalah ikhtiar spiritual, sedangkan kebijakan yang benar adalah ikhtiar sosial dan ekologis. Keduanya tidak boleh dipisahkan,” tegasnya.
Masjid sebagai Pusat Kesadaran Lingkungan
Karena itu, Noviardi mendorong agar masyarakat tidak menunggu pejabat menggelar doa bersama.
Setiap masjid dan mushola, katanya, dapat menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus ruang membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah pembakaran lahan.
“Kalau masyarakat di setiap kampung berdoa, mengingatkan agar tidak membakar lahan dan ikut mengawasi lingkungan, itu jauh lebih bermakna. Masjid tidak hanya menjadi tempat meminta hujan, tetapi juga tempat membangun kesadaran agar manusia tidak merusak lingkungan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah tetap memiliki peran utama dalam membangun sistem pencegahan karhutla.
“Jangan sampai masyarakat diminta berdoa agar hujan turun, sementara pemerintah tidak serius mengevaluasi kebijakan yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. Jangan salahkan langit atas persoalan yang sebagian penyebabnya ada di bumi.”
Menurut Noviardi, ukuran keberhasilan pemerintah bukan seberapa sering pejabat tampil dalam acara doa ketika bencana terjadi, tetapi seberapa kuat pemerintah mencegah bencana sebelum terjadi.
“Kalau ingin salat istisqa, silakan. Tetapi setelah selesai salat, pemerintah harus kembali ke meja kerja: cek tata kelola lahan, perkuat pengawasan, tindak pembakar, lindungi masyarakat dan cegah kebakaran berikutnya,” katanya.
Ia menutup kritiknya dengan sebuah satire.
“Kalau hujan belum turun, jangan hanya mencari pejabat untuk diajak berdoa. Cari juga kebijakan yang harus diperbaiki. Sebab Tuhan memang berkuasa menurunkan hujan, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya terhadap bumi.”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan