Biochar berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pembenah tanah. Karakteristiknya dapat membantu memperbaiki beberapa sifat media tanam, termasuk kondisi fisik tanah serta kemampuan tanah dalam mempertahankan air dan menyediakan ruang bagi unsur hara.
“Biochar ini nantinya bisa dikembangkan untuk dicampurkan dengan media tanam, termasuk dalam pengelolaan lahan gambut. Harapannya, masyarakat bisa melihat bahwa sekam padi yang sebelumnya dianggap limbah ternyata masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan,” jelas Fauzan.
Meski demikian, penggunaan biochar tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman. Biochar bukan solusi tunggal untuk seluruh permasalahan tanah, tetapi dapat menjadi salah satu alternatif yang dikembangkan dalam pengelolaan media tanam secara lebih berkelanjutan.
Dari Sekam, Tumbuh Semangat Pertanian Berkelanjutan
Kegiatan bersama Kelompok Tani Usaha Sepakat tersebut tidak hanya menghasilkan biochar, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membangun keberlanjutan pemanfaatan limbah pertanian di Desa Pudak.
Melalui kolaborasi mahasiswa PPK Ormawa BEM Universitas Jambi 2026 dan masyarakat Desa Pudak, sekam padi yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk yang berpotensi mendukung kegiatan pertanian.
Proses yang dilakukan secara langsung juga memberikan pengalaman kepada warga Desa Pudak dan anggota kelompok tani mengenai cara mengolah sekam menjadi biochar menggunakan teknologi sederhana.
Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada proses pembuatan biochar. Untuk memastikan pemanfaatan dan produksi biochar dapat terus dilanjutkan, dibentuk Sistem Berbasis Biochar Daya Guna Masyarakat (SIBERDAYA) sebagai tim yang akan melanjutkan kegiatan pengolahan sekam padi menjadi biochar di Desa Pudak.
Dengan adanya SIBERDAYA, pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan bersama mahasiswa PPK Ormawa BEM Universitas Jambi 2026 tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diteruskan dan dikembangkan oleh masyarakat melalui kegiatan produksi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Bagi warga Desa Pudak dan Kelompok Tani Usaha Sepakat, keterlibatan dalam proses pembuatan biochar menjadi pengalaman baru dalam memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Sementara bagi SIBERDAYA, keberlanjutan produksi biochar menjadi kesempatan untuk mengembangkan inovasi sederhana yang berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Pada akhirnya, inovasi tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana—dari sekam padi yang dianggap sebagai limbah menjadi arang hayati yang berpotensi kembali memberi manfaat bagi tanah dan pertanian. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan