“Tantangannya masih sangat besar. Produksi kita terus naik, tetapi jangan sampai kemudian B50 ini kekurangan feedstock. Kita harus memastikan target produksi untuk menopang B50 itu cukup,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan ketahanan energi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan peningkatan produksi, keberlanjutan lingkungan, dan aspek ekonomi masyarakat. Dengan demikian, transisi dan diversifikasi energi tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan.

Selain produksi, DEN juga mendorong percepatan pembentukan cadangan penyangga energi. Cadangan tersebut berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini disiapkan badan usaha untuk menjalankan kegiatan sehari-hari.

“Cadangan penyangga energi itu kalau bisa sampai 30 hari setara impor. Itu diberi waktu sampai 2035. Mudah-mudahan kita mengejar. Tetapi dalam waktu dekat, paling tidak sebelum bisa 30 hari, lima hari dulu atau 10 hari dulu. Secara bertahap kita bisa sampai 30 hari, idealnya 60 hari, lebih-lebih bisa 90 hari,” ujarnya.

Dalam konteks daerah, Jambi dinilai memiliki posisi strategis dalam ketahanan energi nasional. Provinsi ini memiliki berbagai sumber daya energi, mulai dari minyak dan gas bumi, batu bara, biomassa hingga komoditas perkebunan yang dapat menjadi bahan baku energi.

Karena itu, daerah penghasil energi tidak hanya diharapkan mampu memasok kebutuhan wilayah lain, tetapi juga harus memastikan kebutuhan energinya sendiri terpenuhi.

“Jangan sampai tikus mati di lumbung padi. Jangan sampai Jambi yang kaya energi ini kemudian justru kurang pasok energi. Kita harus pastikan daerah-daerah penghasil energi menyumbang daerah lain, tetapi jangan sampai kebutuhannya sendiri tidak tercukupi,” katanya.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan energi memiliki dimensi regional. Ketersediaan sumber daya energi di suatu daerah perlu diikuti dengan sistem distribusi dan pemenuhan kebutuhan energi masyarakat di daerah penghasil.

Perguruan Tinggi Didorong Jadi Bagian dari Solusi

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jambi, Hafrida mengatakan perguruan tinggi memiliki ruang kontribusi yang konkret melalui penelitian, pengembangan sumber daya manusia, dan pusat-pusat studi yang dapat mendukung kebutuhan energi nasional.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemangku kepentingan energi penting untuk menghasilkan riset yang dapat menjawab kebutuhan nyata di sektor energi. “Perguruan tinggi punya fungsi terutama penelitian. Kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan satu strategi yang cukup penting dalam rangka mewujudkan kebutuhan-kebutuhan energi,” ujarnya.

Universitas Jambi, lanjutnya, memiliki sumber daya akademik melalui Fakultas Sains dan Teknologi serta sejumlah pusat studi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kajian energi. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penelitian, tetapi dapat menghasilkan kontribusi yang lebih konkret bagi penguatan ketahanan energi nasional.

Dengan demikian, penguatan ketahanan energi Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh: meningkatkan produksi, memperkuat cadangan penyangga, melakukan diversifikasi energi, memastikan ketersediaan bahan baku, mempercepat inovasi teknologi, serta menghubungkan riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri dan pemerintah.

Jambi, dengan kekayaan sumber daya energinya, memiliki posisi penting dalam agenda tersebut. Tantangannya kini adalah memastikan potensi energi yang dimiliki dapat terus diproduksi secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi kebutuhan energi nasional dan masyarakat di daerah penghasil. (*)