“Semua tim bekerja. Kalau ada api yang membakar, Insyaallah tim berusaha untuk memadamkannya. Tapi kalau sudah berupa kabut asap, tim tidak bisa apa-apa, kecuali Allah yang bisa menghentikannya. Kita hanya bisa memohon kepada Allah agar arah angin tidak ke Jambi atau agar hujan segera turun,” ungkapnya.

Selain masalah arah angin, Al Haris juga memaparkan kendala teknis krusial di lapangan, yakni terhambatnya upaya pemadaman melalui jalur udara akibat buruknya jarak pandang (visibility).

“Kendala kita yang pertama, kita tidak bisa melakukan langkah-langkah Water Bombing (bom air) karena sampai hari ini jarak pandang kita masih di angka 1.000 meter. Padahal, standar penerbangan itu harus di atas 1.800 meter,” jelas Al Haris.

Baca juga:  Gubernur Al Haris Berjibaku Padamkan Karhutla di Muaro Jambi, Dorong Masyarakat Manfaatkan Program PLTB

Akibat keterbatasan jarak pandang tersebut, tim juga masih harus menunggu kondisi cuaca dan awan yang membaik untuk melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Gubernur menyebutkan bahwa tim sudah bersiap dan standby, dan apabila pada malam hari sekitar pukul 19.00 kondisi jarak pandang dan awan sudah memungkinkan, maka TMC akan segera dilaksanakan.  (*)