“Ke depan, kami berkomitmen untuk membumikan Marhaenisme di Kabupaten Batanghari. Marhaenisme harus hadir di tengah masyarakat, menyentuh persoalan yang dihadapi rakyat, serta menjadi landasan bagi mahasiswa untuk membangun keberpihakan terhadap kelompok yang mengalami ketimpangan dan ketidakadilan. Bagi kami, ideologi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar menjadi bahan diskusi,” ujar Riduan.

Ia menambahkan bahwa kaderisasi merupakan fondasi untuk melahirkan kader yang memiliki kedalaman ideologi, kemampuan berpikir kritis, dan konsistensi dalam menjalankan perjuangan organisasi.

“Seorang kader tidak cukup hanya memahami teori dan menghafal nilai-nilai perjuangan. Kader harus mampu menghubungkan pemikiran dengan realitas sosial, menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat pembebasan, serta menjaga konsistensi antara keyakinan ideologis dan tindakan. Semangat revolusioner harus diwujudkan melalui perjuangan yang terorganisasi, berpihak kepada rakyat, dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” lanjutnya.

Baca juga:  Konfercab GMNI Jambi: Ludwig Syarif dan Muhtadin Haq Terpilih Pimpin GMNI Jambi

Spirit Marhaenisme dalam kaderisasi GMNI juga menuntut mahasiswa untuk tidak bersikap apatis terhadap persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan sosial. Mahasiswa diharapkan mampu menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat serta menggunakan pengetahuan dan daya kritisnya untuk memahami akar persoalan dan mendorong perubahan.

Komitmen merawat Pancasila, dalam kerangka tersebut, tidak berhenti pada pengucapan sila-silanya. Nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam keberpihakan terhadap kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.

Pada hari terakhir, rangkaian PPAB ditutup dengan pembacaan surat keputusan (SK) penetapan peserta sebagai anggota GMNI, dilanjutkan dengan pembacaan Ikrar Korps Prasetya Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang.

Prosesi tersebut menandai penetapan 23 peserta sebagai anggota GMNI sekaligus menjadi awal tanggung jawab baru dalam menjalankan nilai dan prinsip perjuangan organisasi.

Baca juga:  Marhaen di Era Digital : Perjuangan Driver Ojol Melawan Penindasan Gaya Baru

Melalui PPAB ini, DPC GMNI Batanghari berupaya memperkuat regenerasi kader yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga kesadaran ideologis, kepekaan sosial, dan keberanian memperjuangkan kepentingan rakyat. (*)