Sebagai solusi, Tim Trikarsa menawarkan Strategi N.A.N.A.S, singkatan dari Nir-Asap, Analisis Serat, Nutrisi Tanah, Aksi Komunitas, dan Sejahtera.
Melalui strategi ini, limbah daun nanas dikumpulkan dari lahan petani. Sekitar 3 persen diolah menjadi serat daun nanas atau pineapple leaf fiber untuk bahan baku produk eco-fashion dan tas ramah lingkungan. Sementara itu, 97 persen sisanya direncanakan untuk difermentasi menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan bagi lahan pertanian.
Skema pengolahan tersebut dirancang dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), UMKM pemuda, serta kelompok ibu-ibu PKK setempat. Tim memproyeksikan nilai ekonomi bersih mencapai Rp3.650.000 per ton limbah.
Ketua Tim Trikarsa, Nabila Destiani, mengaku bersyukur atas capaian yang diraih bersama kedua rekannya. Ia mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap persoalan kabut asap yang berulang kali dirasakan masyarakat Jambi.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Ide ini berangkat dari keresahan kami melihat kabut asap yang hampir setiap tahun dirasakan masyarakat Jambi. Kami ingin menunjukkan bahwa limbah daun nanas yang selama ini dibakar sebenarnya bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi warga desa,” ujar Nabila.
Ia menjelaskan, persiapan kompetisi dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Selama proses tersebut, tim mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk mewawancarai petani nanas di Desa Tangkit Baru untuk memahami persoalan yang dihadapi di lapangan.
Data dan temuan tersebut kemudian menjadi bahan untuk menyusun serta menyempurnakan naskah esai secara bersama-sama.
Kolaborasi Lintas Fakultas Jadi Kekuatan Tim
Anggota Tim Trikarsa, Fakhri Arkan Mubarok, mengatakan perbedaan latar belakang pendidikan menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan gagasan tersebut.
“Karena kami berasal dari latar belakang yang berbeda, kami saling melengkapi. Dari sisi bisnis, kami menghitung agar gagasan ini tidak hanya baik untuk lingkungan, tetapi juga layak secara ekonomi dan bisa berjalan secara mandiri,” kata Fakhri.
Sementara itu, Najla Aulia Sandri berharap keberhasilan mereka dapat memotivasi mahasiswa lain untuk berani mengikuti kompetisi dan mengembangkan gagasan inovatif.
“Kemenangan ini menjadi semangat bagi kami untuk terus berkarya. Kami berharap teman-teman mahasiswa tidak ragu mengikuti lomba, karena setiap kompetisi adalah kesempatan untuk belajar,” tuturnya.
Ke depan, Tim Trikarsa berharap Strategi N.A.N.A.S tidak berhenti sebagai gagasan dalam naskah esai, tetapi dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, pelaku usaha, dan kalangan akademisi.
Dengan pengembangan lebih lanjut, inovasi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi petani nanas di Desa Tangkit Baru, membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, serta mendukung pengelolaan limbah pertanian yang lebih berkelanjutan. (*)




Tinggalkan Balasan