TANYAFAKTA.CO Tumpukan hutang obat di RSUD Raden Mattaher Jambi yang disebut mencapai sekitar Rp82 miliar kembali memicu perhatian publik. Tidak hanya soal angka fantastis tersebut, masyarakat juga melaporkan kekosongan berbagai jenis obat penting yang semestinya tersedia di rumah sakit rujukan terbesar di Provinsi Jambi itu.

Menurut hemat penulis, persoalan hutang yang menggunung dan kekosongan berbagai jenis stok obat tidak bisa dianggap sebagai persoalan teknis semata.

Apa yang terjadi saat ini merupakan indikasi kuat kegagalan manajemen yang harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Jika benar hutang obat mencapai puluhan miliar dan stok obat banyak yang kosong, ini bukan lagi soal salah kelola. Ini kegagalan manajemen yang nyata. Direksi rumah sakit harus berani membuka ke publik apa sebenarnya yang terjadi.

Baca juga:  Ketika Investasi Bersih Tersandera : Lingkungan Atau Kepentingan ?

Mustahil rumah sakit sekelas RSUD Raden Mattaher mengalami kekosongan obat esensial tanpa adanya persoalan serius dalam tata kelola anggaran dan perencanaan.

Rumah sakit rujukan provinsi tidak boleh bekerja seperti warung kecil yang kehabisan stok karena salah hitung. Ini institusi publik yang mengurusi nyawa manusia. Publik berhak mendapatkan kejelasan menyeluruh.

Selain itu, kurangnya transparansi dari pihak rumah sakit maupun Dinas Kesehatan Provinsi Jambi terkait akar persoalan yang terjadi. Penulis mendesak agar seluruh jajaran terkait menghentikan pola komunikasi yang defensif dan mulai memberikan data faktual kepada masyarakat.

Penjelasan normatif tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah data detail: berapa jumlah hutang, kepada siapa, sejak kapan menumpuk, dan mengapa stok obat bisa kosong. Jangan menunggu lebih banyak pasien dirugikan.

Baca juga:  Tinjau Warga Selango yang Terdampak Banjir, Gubernur Al Haris Beri Motivasi Agar Tetap Tegar dan Sabar serta Gelontorkan 1 ton Beras