TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Di tengah denyut industri migas yang terus bergerak menjaga pasokan energi nasional, persoalan kesehatan di sekitar wilayah operasi tetap menjadi bagian yang lekat dengan keseharian masyarakat.

Ada balita yang pertumbuhannya perlu dipantau agar tidak tertinggal sejak dini, ibu hamil yang membutuhkan pendampingan gizi untuk menjaga dua kehidupan sekaligus, remaja yang mulai belajar memahami kesehatan reproduksi, lansia yang berharap tetap sehat dan produktif di usia senja, hingga penyandang disabilitas yang memerlukan akses layanan kesehatan yang lebih ramah.

Dari kebutuhan-kebutuhan yang kerap hadir itulah Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 menghadirkan berbagai intervensi kesehatan melalui program tanggung jawab sosial di enam wilayah kerja.

Baca juga:  Sukses Panen Jagung dan Tomat, Petani Binaan Pertamina EP Jambi Field Siap Garap Lahan yang Lebih Luas

Program intervensi pada bidang kesehatan ini dilaksanakan melalui kerja sama dan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, seperti Puskesmas dan Dinas Kesehatan di wilayah masing-masing.

Bertepatan dengan momentum World Health Day yang diperingati setiap 7 April, upaya tersebut menegaskan bahwa menjaga kesehatan berarti turut menjaga harapan hidup masyarakat secara berkelanjutan. Berbagai inisiatif tersebut dijalankan di sekitar wilayah operasi Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang, Pertamina EP (PEP) Jambi, Pertamina EP (PEP) Lirik, Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu, Pertamina EP (PEP) Rantau, serta Pertamina Hulu Energi (PHE) North Sumatra Offshore, dengan fokus pada kelompok rentan yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1 Iwan Ridwan Faizal, menyatakan bahwa program kesehatan yang dijalankan dirancang agar dampaknya tidak berhenti pada pertolongan sesaat, melainkan membangun kemandirian masyarakat dalam menjaga kualitas hidup.

Baca juga:  Baru Buka 4 Hari, Taman Banjuran Budayo Sudah dikunjungi 60 Ribu Orang

“Kami meyakini bahwa keberlanjutan program kesehatan lahir ketika sebuah program mampu memberikan dan menambah pengetahuan, kepedulian, serta daya untuk terus menjaga kesehatan secara mandiri,” ujar Iwan.

Sepanjang 2025, upaya pencegahan stunting menjadi salah satu fokus utama dengan berhasil mengentaskan 130 balita stunting, menjangkau 260 ibu hamil, 100 ibu menyusui, 250 orang tua, 100 keluarga, 100 remaja, serta 770 remaja putri di sejumlah wilayah operasi.

Intervensi dilakukan melalui pemberian makanan tambahan, penguatan fasilitas posyandu, pelatihan kader kesehatan, edukasi gizi keluarga, hingga pengembangan kebun pangan masyarakat sebagai sumber pasokan pangan bergizi berkelanjutan.