RTH Putri Pinang Masak berada di titik kritis itu. Di atasnya berdiri simbol sakral, tapi sekitarnya justru tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dilindungi. Ini bukan sekadar kegagalan desain, tapi kegagalan dalam membangun ekosistem ruang publik yang bermakna.
Kerugian Tak Selalu Soal Uang
Memang, secara administratif proyek ini menuai berbagai catatan dan sorotan dari lembaga pengawas. Ada indikasi bahwa banyak aspek pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan standar kualitas dan volume yang direncanakan. Namun yang lebih penting dari sekadar hitung-hitungan anggaran adalah kerugian sosial dan simbolik yang muncul:
Ketika ruang publik menjadi ruang kosong, Ketika taman tak difungsikan secara sosial,
Dan ketika simbol suci berubah jadi simbol konflik moral. Itulah kerugian yang tak tercatat dalam laporan keuangan, tapi nyata di hadapan masyarakat.
Pemprov Jambi Harus Berhenti Diam
Pemerintah Provinsi Jambi tidak bisa lagi menjadikan proyek ini sebagai catatan yang tertunda. RTH Putri Pinang Masak adalah ruang representatif wajah pemerintah di hadapan rakyat. Jika dibiarkan terbengkalai, maka publik akan melihat itu sebagai simbol lain dari lemahnya perencanaan dan pengawasan dan pemanfaatan hasil pembangunan.
Sudah saatnya Gubernur dan jajaran teknis bertindak nyata, bukan sekadar mengeluarkan janji evaluasi. Lakukan audit menyeluruh atas fungsi dan manfaat taman ini, rumuskan ulang konsepnya, dan jika perlu—redefinisikan ulang ruang ini sebagai ruang edukatif yang hidup, bukan sekadar lanskap mati.
Rekomendasi: Membangun Ruang yang Bermakna
Jika taman ini ingin diselamatkan, maka harus dilakukan langkah-langkah mendasar:
Reposisi Fungsi Simbol
Simbol keagamaan seperti Ka’bah harus punya konteks. Jika ingin tetap dipertahankan, jadikan sebagai bagian dari zona edukasi tertutup atau dikawal oleh narasi religius yang kuat.
Pengelolaan Kolaboratif
Pemprov bisa melibatkan BUMD, ormas keagamaan, atau pihak swasta untuk mengelola taman ini secara profesional dan berbasis nilai. Tapi bukan sekadar alih kelola, melainkan alih fungsi yang bermakna.
Ruang Edukasi dan Literasi
Jadikan RTH sebagai tempat literasi sosial—tentang sejarah Jambi, nilai Islam, dan keberagaman budaya. Libatkan komunitas dan pelajar agar ruang ini benar-benar hidup oleh manusia, bukan hanya oleh rumput dan patung.
Akses Publik dan Akuntabilitas
Pemerintah harus membuka ruang diskusi publik soal arah pengelolaan taman ini. Jangan jadikan ruang publik sebagai urusan segelintir pejabat teknis.
Jangan Biarkan Ruang Ini Mati
RTH Putri Pinang Masak adalah ruang yang lahir dari niat baik, tapi tengah dirundung kehilangan makna. Ia bisa menjadi ikon kota yang membanggakan—tapi juga bisa terus terjerembab sebagai proyek gagal yang dibiarkan membusuk di tengah kota.
Kita butuh ruang publik yang tidak hanya bagus secara visual, tapi juga punya nyawa sosial dan nilai kultural. Dan yang lebih penting: kita butuh pemerintah yang tidak hanya membangun taman, tapi menjaga hidupnya taman itu.
Penulis : Tenaga Pengajar Prodi Arsitektur Universitas Adiwangsa Jambi




Tinggalkan Balasan