4. Manfaat Bagi Dunia.

Merangin Jambi menyumbangkan “pengetahuan unik” tentang flora Permian dan lanskap vulkanik tropis yang masih aktif proses. Pengetahuan ini berguna untuk sains global dari paleobotani, tektonik purba, hingga dinamika kaldera tropis. Sebagai bagian jejaring UGGp, Merangin Jambi ikut mengedarkan metodologi interpretasi, model pemberdayaan perempuan, dan desain geoproduk yang menghormati kearifan lokal. Pada gilirannya, Merangin Jambi menjadi contoh bagaimana Global South memimpin inovasi geopark, mengaitkan konservasi dengan penghidupan warga, membumikan sains melalui budaya, dan menata pariwisata agar tidak melampaui daya dukung.

Merangin Jambi berperan sebagai node dalam jaringan pengetahuan global. Hingga Juni 2025, terdapat 229 UNESCO Global Geoparks di 50 negara. Masuknya Merangin Jambi ke jaringan ini berarti akses ke praktik terbaik, program pertukaran, dan kolaborasi penelitian lintas batas. Jaringan ini mempercepat difusi ide dari standar interpretasi, manajemen pengunjung, hingga model bisnis bagi UMKM seraya menjaga kualitas melalui evaluasi periodik. Ini juga berarti Merangin Jambi Bukan Hanya Belajar Dari Dunia; Dunia Belajar Dari Merangin Jambi Tentang Fosil Flora Permian yang unik dan tentang bagaimana komunitas sungai menata geoturisme yang inklusif.

Agar manfaat itu terjaga, Merangin Jambi perlu berpijak pada teori-teori mutakhir yang hari ini memandu praktik geopark dan pengelolaan lingkungan Adalah sebagai berikut :

Pertama :
Geodiversitas sebagai fondasi. Ilmu terbaru menegaskan bahwa geodiversitas ragam batuan, mineral, fosil, bentuklahan, tanah, dan proses abiotic adalah panggung yang memungkinkan keanekaragaman hayati tumbuh. Kebijakan yang memperlakukan geodiversitas hanya sebagai “latar foto” berisiko mengabaikan fungsi ekologisnya: mengatur aliran air, menyimpan karbon dalam tanah tertentu, atau menyediakan mikrohabitat unik.

Dengan menempatkan geodiversitas sebagai basis perencanaan, Merangin Jambi dapat merancang konservasi yang lebih presisi: misalnya, menjaga mosaik tanah dan bentuklahan yang menopang vegetasi endemik, atau memetakan potensi bahaya geologi yang berkaitan dengan dinamika lereng dan sungai. Literatur kebaruan menunjukkan semakin kuatnya hubungan kausal—bahwa variasi abiotik memfasilitasi keragaman hayati—dan karena itu layak dijadikan indikator perencanaan lanskap.

Kedua :
Geoturisme sebagai pendekatan, bukan sekadar label. Riset oleh Dowling & Newsome menempatkan geoturisme sebagai pendekatan yang menekankan edukasi, konservasi, pengalaman autentik, dan keterlibatan komunitas—membedakannya dari paket wisata massal. Implementasinya menuntut interpretasi yang cermat (papan informasi, pemandu terlatih, pusat informasi) dan manajemen daya dukung (kuota pengunjung pada musim tertentu, jalur satu arah untuk mengurangi erosi, SOP keselamatan arung jeram).

Baca juga:  APBD Jambi dan Batu Bara Etalase Gagal Paham yang dipertontonkan

Di Merangin Jambi, ini berarti pilihan desain yang “memperlambat” wisatawan agar mereka tinggal lebih lama, belajar lebih dalam, dan membelanjakan lebih banyak di usaha lokal—alih-alih berbondong-bondong datang, memadati satu spot, lalu pergi tanpa interaksi berarti.

Ketiga :
Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions/NbS) sebagai kerangka adaptasi dan mitigasi. IUCN mendefinisikan NbS sebagai aksi melindungi, mengelola secara berkelanjutan, dan merestorasi ekosistem untuk menjawab tantangan sosial—mulai dari iklim, bencana, air, hingga ketahanan pangan—dengan manfaat serempak bagi manusia dan alam.

Dalam geopark, NbS bisa berarti merestorasi vegetasi riparian di sepanjang sungai arung jeram untuk menahan erosi, mengatur debit, dan menjaga kualitas wisata; memulihkan lahan karst dari penambangan liar dengan revegetasi dan pengendalian akses; atau mengelola mosaik agroforestri di desa-desa buffer zone sebagai penyangga iklim mikro. NbS juga mengamankan “aset” geowisata: tanpa riparian yang sehat, jalur arung jeram cepat rusak; tanpa tutupan vegetasi yang tepat, longsor menutup akses site; tanpa pengelolaan air, kualitas pengalaman menurun.

Keempat :
Tata kelola berjejaring dan evaluatif. UGGp mewajibkan pengelolaan dengan badan hukum yang diakui, rencana terpadu, kemitraan lintas otoritas, dan keanggotaan aktif di Global Geoparks Network. Penekanan pada pendidikan publik, pemberdayaan perempuan, dan kolaborasi lintas disiplin memperlihatkan bahwa geopark adalah proyek sosial-sains, bukan proyek fisik semata. Revalidasi empat tahunan memastikan siklus belajar-memperbaiki berjalan; “kartu” hijau-kuning-merah membentuk kultur akuntabilitas. Bagi Merangin Jambi, sistem ini menjadi “jaminan mutu” yang memperkuat legitimasi di mata investor sosial, donor riset, dan pasar wisata minat khusus global.

Kelima :
keterkaitan geopark dengan agenda global. Dengan bergabung di jaringan UGGp, Merangin Jambi ikut menambah mosaik geopark dunia yang kini tersebar di 50 negara. Jejaring ini mempercepat transfer pengetahuan tentang mitigasi perubahan iklim, edukasi kebencanaan, dan konservasi berbasis komunitas—seraya menempatkan Merangin Jambi di peta kolaborasi internasional. Ini bukan semata prestise; ia membuka akses ke pendanaan, riset, dan promosi global yang sulit diraih sendirian.

Baca juga:  Geopark Merangin antara Program Dunia atau Hiperbola Global ?

Agar Merangin Jambi tetap menjadi “PROGRAM DUNIA”, ada beberapa prinsip implementasi yang sejalan dengan teori dan standar terbaru :

Pertama :
Interpretasi yang mengubah rasa ingin tahu menjadi kepedulian. Papan informasi, pemandu, dan pusat interpretasi harus menuturkan sains dalam bahasa sehari-hari, menghindari jargon yang membuat publik menjauh. UNESCO menekankan bahwa geopark harus memudahkan orang mencintai sains lewat pengalaman entah itu “Fossil Fun Day” untuk anak, tur malam bertema langit gelap, atau lokakarya membuat batik motif fosil. Prinsip ini membuat setiap kunjungan menjadi pelajaran hidup tentang waktu geologis, dinamika sungai, dan tanggung jawab manusia.

Kedua :
NbS sebagai SOP lanskap. Manajemen jalur trekking, arung jeram, dan zona karst menjadikan solusi berbasis alam sebagai standar: vegetasi bantaran untuk penahan erosi, pengelolaan air hujan di jalur, pemulihan area terdegradasi dengan spesies lokal, hingga desain fasilitas yang menyatu dengan kontur. Pengukuran manfaat dilakukan lewat indikator ekologi (stabilitas lereng, kualitas air), sosial (kepuasan warga dan wisatawan), dan ekonomi (pendapatan UMKM) karena NbS dinilai dari multi-manfaatnya, bukan dari satu angka saja.

Ketiga,
Ekonomi kreatif yang menghormati geodiversitas. Geoproduk bukan sekadar suvenir; ia medium pendidikan. Motif pada kain, ukiran kayu, atau keramik menceritakan fosil, alur sungai, dan bentuklahan setempat. Nilai tambah lahir dari cerita yang benar secara ilmiah namun mengalir secara budaya. Riset menunjukkan geopark yang berhasil biasanya menemukan “bahasa desain” yang khas menghubungkan sains dengan estetika lokalsehingga produk punya keunikan di pasar global.

Keempat,
Akuntabilitas melalui revalidasi dan data terbuka. Setiap tahun, pengelola merilis laporan kinerja: jumlah pemandu yang dilatih, UMKM yang terhubung, indikator kebersihan site, pengurangan timbulan sampah, respondarurat arung jeram, dan capaian edukasi sekolah. Data ini bukan hanya syarat UGGp; ia bahan belajar bersama dan alat untuk mengundang partisipasi publik. Sistem green/yellow/red card menuntun perbaikan berkelanjutan, membuat semua pihak “siaga mutu”.

Kelima,
Kolaborasi lintas batas ilmu, budaya, dan pasar. Merangin Jambi dapat bertukar program dengan geopark lain: residensi seniman-saintis, kemitraan sekolah, hingga rute geoturisme tematik Nusantara. Di level kebijakan, provinsi dan kabupaten memanfaatkan jaringan GGN untuk benchmarking dan promosi. Dunia kini bergerak cepat; yang menjaga Merangin Jambi tetap relevan adalah kemampuan menjadi pembelajar aktif dalam komunitas global geopark.

Baca juga:  Geopark Youth Voices: Persilangan Sains, Budaya, dan Pariwisata Berkelanjutan

Pada akhirnya, argumen terkuat bahwa Geopark Merangin Jambi bukan proyek simbolis justru ada pada dinamika sehari-hari: ketika ibu-ibu desa menghitung penghasilan tambahan dari katering homestay; ketika siswa SD menemukan fosil daun di batu dinding kelas dan bertanya “berapa umur Bumi?”; ketika pengrajin merancang pola baru yang terinspirasi alur Sungai Merangin; ketika pemandu lokal mengoreksi dengan santun mitos yang menyesatkan dan menggantinya dengan penjelasan ilmiah yang membangkitkan rasa kagum; ketika pemerintah kabupaten memutuskan memperbaiki drainase jalur pendakian sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana; ketika peneliti dari universitas manapun datang, dan pulang dengan kagum karena warga mampu menjadi co-researcher. Momen-momen kecil itu, bukan seremoni, yang membangun program dunia.

Di panggung global, Merangin Jambi berdiri bukan karena ingin dikenal, tetapi karena punya sesuatu untuk dibagikan: cerita lengkap tentang bagaimana geodiversitas menopang kehidupan, bagaimana ilmu dan budaya bisa berdansa, bagaimana pembangunan tidak harus merusak fondasi bumi yang sama-sama kita pijak. Dan karena status UGGp datang dengan kewajiban menjaga mutu dan belajar terus, Merangin Jambi berjanji, melalui revalidasi berkala, bahwa program ini akan tetap hidup, relevan, dan bermanfaat lintas generasi.

Dalam jaringan geopark dunia yang terus bertumbuh, Merangin Jambi adalah simpul penting dari Indonesia bagian dari dua belas geopark yang kini diakui UNESCO yang menambah warna pada atlas geodiversitas global sekaligus menjadi lokomotif pembelajaran untuk kawasan. Maka sebutan “PROGRAM DUNIA” bukan retorika, itu deskripsi yang akurat: program yang menghubungkan desa dengan planet, kabupaten dengan jaringan global, provinsi dengan agenda SDGs, dan warga dengan sains. Di sinilah masa kini bertemu masa geologi; di sinilah Merangin Jambi mengajarkan kita untuk berjalan pelan, membaca jejak, dan pulang dengan hati yang lebih penuh.

Sekretaris PUSDIKLAT LAM Provinsi Jambi

Referensi :

1. Unesco. (2023). Unesco Global Geoparks.
2. Dinas Pariwisata Kabupaten Merangin. (2023). Laporan Tahunan.
3. Badan Pengelola Mjuggp. (2023).
4. Kontribusi Uggp Pada Sdgs; Geoturisme Sebagai Pendekatan;
5. Kutipan Literatur Ilmiah Yang Relevan Lainnya.