Oleh : Dr. Noviardi Ferzi 

TANYAFAKTA.CO –  Narasi Geopark Merangin Jambi sebagai program dunia memang menggugah, enak dibicarakan diruang – ruang diskusi. Mamun jika ditelaah secara kritis, narasi tersebut terasa hiperbolis. Status UNESCO Global Geopark (UGGp) memang sebuah pengakuan prestisius, tetapi ia harus dibaca dengan kacamata realistis, bukan glorifikasi berlebihan.

Penetapan geopark tidak otomatis menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. Studi dari Hose & Vasiljević (2012) menunjukkan bahwa banyak geopark di dunia hanya sukses di level branding, tetapi dampaknya pada ekonomi desa masih terbatas. Tanpa tata kelola yang konsisten, program geopark cenderung menghasilkan showcase pariwisata, sementara warga tetap menghadapi keterbatasan pendidikan, infrastruktur, dan akses pasar. Menyebut bahwa setiap warung kopi, pengrajin bambu, atau homestay otomatis diuntungkan jelas terlalu optimistis.

Baca juga:  Rem Sosial Menjaga Investasi: Merajut Kondusivitas atas Fenomena Demo Anarkis di Jambi

Klaim bahwa Merangin akan menjadi “laboratorium dunia” juga patut dipertanyakan. Tidak semua daerah yang berstatus UGGp menjadi pusat riset internasional. Penelitian UNESCO (2016) mencatat banyak geopark di Asia Tenggara masih berjuang dengan keterbatasan aksesibilitas, fasilitas penelitian, dan keberlanjutan pendanaan. Jambi menghadapi tantangan serupa: anggaran terbatas, lemahnya pengawasan, serta tumpang tindih kepentingan politik. Dalam konteks ini, standar UNESCO lebih bersifat peluang, bukan jaminan.

Narasi bahwa dunia akan belajar dari Merangin tentang fosil Permian memang terdengar membanggakan. Namun, realitas di lapangan justru memperlihatkan bahwa koleksi fosil masih rentan terhadap penjarahan, dokumentasi ilmiahnya minim, dan publikasi internasional belum masif. Padahal, literatur paleobotani menegaskan pentingnya publikasi ilmiah terbuka agar warisan geologi dapat diakui secara global (Cleal & Thomas, 2019). Tanpa riset berkelanjutan dan jaringan akademik yang kuat, klaim Merangin sebagai pusat pengetahuan dunia cenderung retoris.

Baca juga:  Miliaran Rupiah untuk Kenyamanan Ketua DPRD Sarolangun: Saat Instruksi Presiden Diabaikan, Rakyat Ditinggalkan

Demikian pula, jargon tentang geoturisme, nature-based solutions, hingga integrasi dengan SDGs memang relevan secara konseptual, tetapi dalam praktiknya sering berhenti pada wacana. Dowling & Newsome (2018) menekankan bahwa geoturisme hanya berhasil jika dikelola dengan standar ketat: pembatasan daya dukung, pengelolaan sampah, keselamatan pengunjung, dan keterlibatan komunitas. Di Merangin, persoalan mendesak justru muncul pada kurangnya kapasitas pemandu lokal, rendahnya kualitas infrastruktur, serta masalah sampah wisata yang belum teratasi.

Dengan demikian, menyebut Geopark Merangin Jambi sebagai program dunia memang memberi kebanggaan, tetapi jangan sampai menutup ruang kritik. Status UGGp adalah peluang, bukan jaminan. Ia harus diuji dengan capaian konkret: peningkatan pendapatan masyarakat desa, konservasi geowarisan yang terukur, riset yang menghasilkan publikasi internasional, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel. Tanpa capaian itu, klaim besar hanya akan terdengar sebagai hiperbola yang jauh dari kenyataan.

Baca juga:  Geopark Merangin: Dari Simbolisme ke Realitas Nyata Pembangunan Daerah

Pemerhati Kebijakan Publik