“Alhamdulillah, perubahan besar ini menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Quran tidak hanya identik dengan pesantren atau madrasah, tetapi juga bisa berkembang di sekolah umum,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi, Mulyadi, menilai Gerami merupakan bagian dari upaya bersama menciptakan generasi berkarakter kuat. Ia menekankan pendidikan agama tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat.

“Kolaborasi ini sangat sejalan dengan program keagamaan Pemkot, seperti Tahfidz dan Guru PAMI. Jika berjalan di semua tingkatan, saya yakin akan lahir generasi berakhlak mulia dan menjadikan Al-Quran pedoman hidup,” ujarnya.

Ketua Gerami Kota Jambi, Hj. Masturo, dalam laporannya mengungkapkan bahwa Gerami berdiri sejak 2019 dengan fokus memberantas buta aksara Al-Quran di kalangan ibu-ibu. Kini, sasaran diperluas ke tingkat sekolah menengah sebagai langkah strategis.

Baca juga:  660 Calon Jamaah Haji Siap Berangkat, Wali Kota Jambi: Jaga Kesehatan dan Niatkan Haji Mabrur

Berdasarkan identifikasi, dari 4.612 pelajar SMP Negeri di Kota Jambi, 51 persen masih belum bisa membaca Al-Quran. “Angka ini tidak bisa ditoleransi. Kami berharap Gerami bersama Pemkot dapat segera menekan angka ini demi lahirnya generasi Qurani di Jambi,” pungkasnya. (*)