Rizal menambahkan, penyaluran beras dilakukan secara massif melalui jalur pasar tradisional, koperasi, lembaga pemerintah, kerja sama dengan TNI-Polri, outlet binaan BUMN, RPK, hingga ritel modern.
Sinergi ini bertujuan mempercepat distribusi agar kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia dapat terpenuhi.
Pemeliharaan beras yang diterapkan mencakup pemeriksaan kualitas sejak awal masuk gudang, pengecekan berkala, menjaga sanitasi gudang, penyemprotan, serta fumigasi jika ditemukan hama.
Saat penyaluran, BULOG menjalankan sistem FIFO (First In, First Out) dan FEFO (First Expired First Out).
Namun, kondisi kualitas beras tetap menjadi pertimbangan utama, sehingga bila ada penurunan mutu dilakukan tindakan seperti fumigasi ulang, pemisahan, hingga pengolahan dengan mesin pemilah modern agar hanya beras layak konsumsi yang diterima masyarakat.
Rizal juga menegaskan bahwa beras yang tidak memenuhi standar konsumsi tidak dibuang begitu saja, melainkan diproses sesuai SOP ketat untuk kebutuhan industri lain seperti pakan.
Dengan cara ini, setiap butir beras tetap memberikan nilai guna. Hingga kini, BULOG telah menyalurkan beras SPHP lebih dari 327 ribu ton dari total penugasan 1,5 juta ton, dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, daerah, TNI-Polri, BUMN, serta para pengecer.
“Prinsip kami jelas, negara harus memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Maka BULOG menjaga kualitas beras dengan pemeliharaan ketat agar beras yang diterima masyarakat benar-benar layak konsumsi dan sehat.”
“BULOG akan terus menjaga kualitas beras, nama baik negara, dan berkomitmen penuh memberikan yang terbaik bagi bangsa dan masyarakat Indonesia,” ujar Rizal menegaskan. (*)



Tinggalkan Balasan