Manfaat paling kasat mata dari “Kampung Bahagia” adalah perubahan fisik lingkungan. Warga menggunakan dana Rp 100 Juta per RT untuk perbaikan jalan lingkungan yang berlubang, pembangunan drainase mengatasi genangan air, hingga pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU) yang menciptakan rasa aman.

Namun, program ini jauh melampaui urusan aspal dan semen. Ia juga fokus pada aspek kebersihan dan kesehatan. Misalnya, RT-RT percontohan gencar menggalakkan sistem pengelolaan sampah modern, di mana sampah diangkut langsung dari rumah tangga dan dipilah agar memiliki nilai ekonomi. Warga tidak hanya didorong menjaga kebersihan, tetapi juga diajak menciptakan peluang ekonomi baru dari limbah.

Salah satu inovasi penting dalam program ini adalah penyertaan jaminan sosial. Wali Kota Maulana telah memastikan bahwa warga yang terlibat sebagai pelaksana kegiatan fisik atau pengelola program di tingkat RT, termasuk pekerja rentan, dilindungi oleh BPJS Ketenagakerjaan. Kebijakan ini merupakan bentuk kehadiran negara yang konkret, memastikan semangat gotong royong warga membangun kampungnya tidak dibarengi risiko ekonomi atau kecelakaan kerja yang tidak terlindungi. Apresiasi terhadap kebijakan jaminan sosial ini bahkan datang dari Asisten Deputi Kepesertaan Institusi BPJS Ketenagakerjaan, menunjukkan bahwa inisiatif Jambi ini menjadi model yang patut dicontoh.

Baca juga:  Apresiasi Program Unik Kelurahan Budiman, Wali Kota Jambi Soroti Sampah Tertutup dan UMKM Kreatif

“Kampung Bahagia” terintegrasi erat dengan Program Unggulan Kota Jambi Bahagia lainnya, seperti BANK HARKAT dan Fasilitas Pelatihan Kerja berbasis industri. Melalui BANK HARKAT, pemerintah memberikan dukungan permodalan dan penguatan ekosistem bisnis bagi kelompok usaha di tingkat RT. Melalui skema ini, dana Rp 100 Juta per RT dapat dialokasikan memicu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) warga, sehingga RT tidak hanya menjadi unit administrasi, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi lokal.

Selanjutnya, melalui Pelatihan Kerja, Pemkot Jambi menawarkan pelatihan keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja modern. Program ini bertujuan mengurangi pengangguran dan meningkatkan daya saing tenaga kerja muda di tingkat RT.

Dampak terbesar program ini adalah penguatan kembali semangat gotong royong yang sempat memudar di tengah hiruk pikuk modernitas. Dana yang dikelola secara kolektif memaksa warga duduk bersama, berdiskusi, dan mencapai kesepakatan. Proses musyawarah ini secara inheren meningkatkan kohesi sosial dan rasa kepemilikan terhadap lingkungan.

Baca juga:  Ombudsman Jambi Perkuat Pengawasan Program Kampung Bahagia, Dorong Transparansi di 67 RT Kota Jambi

​Ketika jalan di lorong mereka dibangun atas hasil keringat musyawarah dan kerja Pokja Bahagia, warga akan merasa lebih bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. “Kampung Bahagia” telah sukses menciptakan warga sebagai subjek pembangunan, bukan hanya sekadar penerima bantuan.

Program ini membuktikan bahwa pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang berani mendelegasikan kepercayaan dan anggaran kepada masyarakat di level paling bawah. Bagi Maulana, Kampung Bahagia adalah jalan pintas menuju pemerataan pembangunan yang efektif. Ini merupakan investasi jangka panjang pada modal sosial (social capital) dan pemberdayaan warga.

Tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi pendampingan teknis agar setiap RT mampu menyusun rencana pembangunan yang terstruktur dan sesuai standar (seperti standar Dinas PUPR untuk pekerjaan fisik), serta memastikan keberlanjutan program pasca masa kepemimpinan Maulana. Namun, dengan antusiasme yang tinggi dan dukungan pengawasan dari berbagai pihak, niscaya “Kampung Bahagia” akan terus bergulir, mewujudkan visi Kota Jambi yang benar-benar bahagia.

Baca juga:  Bahaya Dibalik Operasional PT AMR: Dugaan Industri Tanpa Izin yang Mengancam Hukum, Lingkungan, dan Negara!