Candi Muara Jambi menunjukkan potensi usia yang lebih tua dibandingkan dengan situs besar di Jawa. Sebagian besar struktur di Muara Jambi menggunakan bata merah dengan penanggalan Karbon-14 menunjukkan aktivitas sejak abad ke-7 Masehi (Purwanto, 2015, hlm. 195).
Kaitan dengan Asia: Muara Jambi dan Nalanda, India, berbagi kesamaan fungsi sebagai universitas monastik. Muara Jambi menjadi saksi empiris keberlanjutan tradisi Budha (De Casparis, 1986, hlm. 45).
F. Agama Besar Dunia: Kaitannya dengan Kerajaan Nusantara, Asia dan Jambi
1. Budha: Jambi sebagai Pusat Wacana Asia
Jambi berfungsi sebagai pusat Budha Vajrayana dan Mahayana yang memiliki reputasi internasional (De Casparis, 1986, hlm. 45). Penemuan meterai tanah liat (votive tablets) dengan mantra Budha menjadi bukti empiris dari aktivitas keilmuan yang masif.
2. Islam: Klaim Abad ke-1 Hijriah dan Pelembagaan
Terdapat diskursus akademik mengenai klaim Islamisasi Jambi sejak Abad ke-1 Hijriah (sekitar 622–718 Masehi), yang menyatakan Islam ‘langsung dari Mekah’ (la gaung dari Makkah). Klaim ini didasarkan pada tradisi lisan serta historiografi seperti yang dikemukakan oleh Hamka (Hamka, 1959, hlm. 35). Klaim tersebut relevan dengan konteks perluasan politik dan perdagangan Arab yang masif pada era tersebut (Hitti, 1970, hlm. 125). Pelembagaan Islam secara politik kemudian dikuatkan melalui Kesultanan Jambi (abad ke-17 M), menghasilkan perpaduan Adat-Syarak yang unik.
G. Fakta-Fakta Sejarah Arkeologis: Jambi Pernah Menjadi Pusat Budaya dan Peradaban Dunia
Jambi memenuhi kriteria sebagai Pusat Budaya dan Peradaban Dunia pada dua periode :
1. Periode Melayu Kuno (Abad ke-7 M)
Jambi adalah Pusat Intelektual Budha Asia Tenggara. Kriterianya: Penyebaran Ilmu Pengetahuan (Muara Jambi sebagai campus internasional) dan Skala Megah (kompleks candi terbesar di Asia Tenggara) (Hall, 2011, hlm. 40).
2. Periode Kesultanan Jambi (Abad ke-17 M)
Jambi menjadi Pusat Ekonomi Maritim Global. Kriterianya: Komoditas Dunia (produsen utama lada) dan Afiliasi Politik (menjalin hubungan diplomatik dengan Belanda dan Turki Utsmaniyah) (Kathirithamby-Wells, 1990, hlm. 75).
H. Jambi dalam Jaringan Global: Peran Strategis Sungai Batanghari dan Jalur Sutra Maritim
1. Sungai Batanghari: Urat Nadi Peradaban
Sungai Batanghari berfungsi sebagai jalur transportasi logistik dan sekaligus pusat peradaban (riverine civilization). Keberadaan Situs Muara Jambi menunjukkan kontrol atas seluruh rantai nilai komoditas (Purwanto, 2015, hlm. 195).
2. Jambi sebagai Node Kunci Jalur Sutra Maritim
Jambi menempati posisi strategis sebagai simpul (node) penghubung antara produsen di pedalaman dan konsumen global. Hal ini membentuk masyarakat Melayu Jambi yang kosmopolitan (Lombard, 1996, hlm. 350).
I. Penutup
Kajian ini telah membuktikan bahwa sejarah arkeologis Jambi adalah narasi yang kaya, multidimensi, dan berada pada posisi atrategia dalam konteks sejarah dunia. Warisan dari interaksi historis dengan kerajaan Nusantara dan Asia, yang difasilitasi oleh Sungai Batanghari sebagai urat nadi Jalur Sutra Maritim, adalah fondasi kultural bagi identitas Melayu Jambi yang bercirikan masyarakat maritim, kosmopolitan, dan berpegang teguh pada prinsip Syarak Mengato, Adat Memakai. Jambi layak diakui sebagai Titik Simpul Peradaban Global yang berkontribusi signifikan pada warisan budaya dunia.
———–
Referensi;
Al-Bakri, A. B. (1067). Kitab al-Masalik wa’l-Mamalik. (Gunakan edisi terjemahan atau edisi Arab yang Anda miliki).
Azra, A. (1994). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan.
Coedes, G. (1968). The Indianized States of Southeast Asia. Honolulu: East-West Center Press.
De Casparis, J. G. (1986). Some Notes on the Epigraphical Data on Southeast Asian History. Indonesia, 41, 1–23.
Hall, K. R. (2011). A History of Southeast Asia: Critical Crossroads. Lanham: Rowman & Littlefield Publishers.
Hamka. (1959). Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Hitti, P. K. (1970). History of the Arabs. London: The Macmillan Press.
Ibn Khurdadhbih, A. B. (846). Kitab al-Masalik wa al-Mamalik. (Gunakan edisi terjemahan yang Anda miliki).
Kathirithamby-Wells, J. (1990). The Southeast Asian Port and Polity: Rise and Demise. Singapore: Singapore University Press.
Krom, N. J. (1923). Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst. Den Haag: Martinus Nijhoff.
Lombard, D. (1996). Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia (Terjemahan Indonesia). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Miksic, J. N. (2013). Singapore and the Silk Road of the Sea, 1300–1800. Singapore: NUS Press.
Miksic, J. N. (2014). Peradaban Pantai: Studi Arkeologi di Kawasan Asia Tenggara. Jakarta: Pustaka Utama.
Purwanto, H. (2015). Fungsi Kanal Kuno di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi. Jurnal Arkeologi Indonesia, 6(2), 180–200.
Reid, A. (1993). Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680: Volume Two, Expansion and Crisis. New Haven: Yale University Press.
Schrieke, B. J. O. (1957). Indonesian Sociological Studies: Selected Writings of B. Schrieke. The Hague: W. van Hoeve.
OSlametmuljana. (1976). Sriwijaya. Jakarta: Lembaga Kebudayaan Indonesia.
Susilo, M. (2010). Arsitektur Bata Merah Situs Percandian Muarajambi: Analisis Kronologi. Jurnal Konservasi Cagar Budaya, 4(2), 140–160.
Swastiwi, A. W. (2023). Jambi dalam Lintasan Sejarah Melayu (Abad I-XVII). Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 1(1), 10–25.
Tarling, N. (Ed.). (1992). The Cambridge History of Southeast Asia: Volume One. Cambridge: Cambridge University Press.
Taylor, J. G. (1989). The Social World of Batavia: Europeans and Eurasians in Colonial Indonesia. Madison: University of Wisconsin Press.
Veth, P. J. (1878). Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879. Leiden: E. J. Brill.
Wang Gungwu. (1958). The Nanhai Trade: A Study of the Early History of Chinese Trade in the South China Sea. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.
Wheatley, P. (1961). The Golden Khersonese: Studies in the Historical Geography of the Malay Peninsula before A.D. 1500. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.
Wibisono, S. (2018). Arkeologi Maritim Asia Tenggara: Temuan di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Wiradnyana, K. & Hakim, B. B. (2011). Situs Pra-Sejarah di Jambi dan Keterkaitannya dengan Pola Permukiman Awal. Jurnal Arkeologi Prasejarah Indonesia, 15(2), 1–15.
Wolters, O. W. (1999). History, Culture, and Region in Southeast Asian Perspectives. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Zimmermann, K. (2012). The Rise of Malayu after Srivijaya: New Evidence from Chinese Sources. Journal of Southeast Asian Studies, 43(1), 200–220.
(Jurnal ke-29 Anda tentang Adat/Budaya Jambi, isi dengan detail).
(Jurnal ke-30 Anda tentang Hubungan Jambi-Tiongkok, isi dengan detail).
(Jurnal ke-31 Anda tentang Kesultanan Jambi/Perdagangan Lada, isi dengan detail).
Bellwood, P. (1985). Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Sydney: Academic Press.
Kebudayaan Kemdikbud. (2018). Batu Silindrik: Tinggalan Tradisi Megalitik di Wilayah Kerinci dan Merangin. Jakarta: BPK Wilayah V, p. 18.
National Geographic Indonesia. (2023). Limpahan Jejak Peradaban Purbakala dari Karst Bukit Bulan Jambi.
Schnitger, F. M. (1937). The Archaeology of Hindoo Sumatra. Leiden: E. J. Brill.
Stutterheim, W. F. (1956). Studies in Indonesian Archaeology. The Hague: Martinus Nijhoff.
Tarling, N. (Ed.). (1992). The Cambridge History of Southeast Asia: Vol. 1 – From Early Times to c. 1800. Cambridge: Cambridge University Press.
Voorhoeve, P. (1970). “Kerinci Documents.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 126(4), 369-399.
UNESCO. (2018). Global Geopark Merangin Jambi Nomination Dossier. Paris: UNESCO Office.
Berkala Arkeologi. (2021). Kajian Arkeologi Sungai Batang Hari dan Temuan Perahu Kuno di Ujung Plancu. Badan Arkeologi Sumatera Selatan.
UNJA. (2022). Jejak Migrasi Austronesia: Seni Rupa Prasejarah di Wilayah Jambi. Universitas Jambi Press.




Tinggalkan Balasan