TANYAFAKTA.CO, MUARO JAMBI – Di sebuah ruang pertemuan sederhana di kawasan Jaluko, belasan guru matematika SMP duduk membentuk lingkaran sambil memegang laptop mereka. Suasana tampak berbeda dari pertemuan MGMP biasanya.
Di depan ruangan, Drs. Husni Sabil berdiri memulai pelatihan yang kelak mengubah cara guru-guru itu memandang teknologi, budaya lokal, dan peran mereka sebagai pendidik. “Hari ini, kita belajar membuat bahan ajar digital dari rumah adat Jambi, dibantu AI dan AR,” ucapnya. Kalimat itu langsung memancing antusiasme dan juga sedikit rasa ragu dari para peserta.
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Universitas Jambi ini bukan pelatihan biasa. Tim pengabdian membawa konsep Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar dan Asesmen Digital Berbasis Rumah Adat Jambi Berbantuan AI–AR Terintegrasi Model PBL untuk membantu guru memperkuat literasi informasi mereka. Dukungan pendanaan dari DPPM Kemdikbudristek melalui Hibah PKM BIMA Tahun 2025 memungkinkan pelatihan ini dilakukan secara intensif dan praktis.
Alih-alih ceramah panjang, guru justru diajak “menyentuh teknologi” dan mengalami langsung bagaimana AI menyusun materi pelajaran dan bagaimana AR membuat rumah adat Jambi seolah-olah muncul di depan mata. Bagi sebagian guru, ini adalah pengalaman pertama menggunakan teknologi sejenis.
Di salah satu meja, seorang guru bernama Nur (pseudonim) tampak tersenyum saat aplikasi AR di laptopnya menampilkan visual 3D rumah Kajang Lako.
“Biasanya menjelaskan bangun ruang itu abstrak. Dengan AR, siswa bisa melihat bentuknya langsung, lengkap dengan detail ornamen Jambi,” katanya sambil memperlihatkan hasil kreasinya.
Di titik inilah pelatihan mulai terasa menyentuh sisi human interest: guru-guru merasakan percaya diri dan bangga karena teknologi yang mereka buat terhubung dengan budaya sendiri. Ini bukan sekadar pelatihan digital—ini adalah ruang untuk merayakan identitas lokal.
Dua anggota tim, Dr. Nizlel Huda, M.Kes. dan Masyunita Siregar, M.Pd., tampak berpindah dari satu meja ke meja lain membantu guru mengolah materi matematika ke bentuk digital. Mereka memandu peserta membuat asesmen interaktif yang menggabungkan soal HOTS, konteks rumah adat, dan tampilan AR untuk membantu siswa memahami konsep dengan lebih baik.
“Guru harus menjadi arsitek pengalaman belajar,” kata Masyunita, menjelaskan alasan mengapa integrasi budaya lokal penting dalam asesmen digital. Pendampingan personal seperti ini membuat guru merasa dihargai dan didampingi sepenuhnya.
Hasil pelatihan menunjukkan perubahan besar dalam kemampuan peserta. Pemahaman guru mengenai penggunaan AI melonjak dari 49% menjadi 87% setelah pelatihan. Keterampilan membuat asesmen digital berbasis budaya meningkat dari 45% menjadi 83%, sementara kemampuan menggunakan AR mencapai peningkatan dari 40% menjadi 81%.
Di balik angka-angka itu terdapat cerita tentang guru yang semula cemas menyentuh teknologi, tetapi kini mampu merancang perangkat ajar digital sendiri. Bagi mereka, ini bukan sekadar peningkatan kompetensi, tetapi bukti bahwa mereka mampu berkembang meski tantangan zaman semakin kompleks.
Dampak pelatihan juga terlihat pada kualitas RPP dan bahan ajar yang dihasilkan guru. Kualitas perangkat ajar meningkat hingga 36%, namun yang paling berarti bukan sekadar angka. Banyak guru yang dalam sesi refleksi mengatakan bahwa mereka baru menyadari bahwa budaya lokal dapat menjadi sumber belajar yang kaya.
“Selama ini kami mencari bahan ajar dari luar, padahal rumah adat kami sendiri punya banyak konsep geometri,” ujar salah satu peserta. Pernyataan sederhana itu menggambarkan perubahan cara pandang yang menjadi inti dari pendekatan human interest Kompas.
Pelatihan ini mendapat apresiasi dari LPPM Universitas Jambi, yang melihat program ini sebagai jembatan antara teknologi modern dan nilai-nilai budaya daerah. “Integrasi AI dan AR dengan kearifan lokal adalah langkah penting agar pendidikan kita tidak tercerabut dari akar budaya,” ujar Ketua LPPM dalam pernyataan resminya.
Dukungan LPPM memastikan kegiatan berjalan tertib, terstruktur, dan berdampak. Seluruh rangkaian kegiatan dikawal dengan standar pengabdian masyarakat yang ketat agar hasilnya benar-benar memberi manfaat bagi guru dan sekolah.
Di akhir kegiatan, para guru berkumpul kembali dalam lingkaran seperti di awal. Namun kali ini, suasana berbeda—mereka memegang bahan ajar digital buatan sendiri, memamerkan tampilan AR, dan bercerita penuh keyakinan tentang bagaimana pembelajaran di kelas mereka akan berubah. Drs. Husni Sabil menutup kegiatan dengan harapan agar para guru meneruskan inovasi ini di sekolah masing-masing.
Tim pengabdian berencana membentuk komunitas guru kreatif berbasis AI–AR di Rayon Jaluko agar perubahan yang sudah dimulai dapat berlanjut. Dari sebuah rumah adat Jambi yang divisualisasikan dengan AR, sebuah transformasi kecil tetapi penting telah dimulai di ruang-ruang kelas SMP. (*)



Tinggalkan Balasan