Perbedaan ini menunjukkan bahwa sistem informasi harga dan tata niaga sering kali lambat mengantisipasi gejolak mendadak di pasar. Ada jurang antara angka di atas kertas dan kondisi riil di lapangan.

Sumber-sumber lokal menunjukkan bahwa kenaikan ekstrem biasanya terjadi ketika pasokan dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan, atau Jawa terganggu oleh cuaca, hambatan distribusi, atau penurunan panen mendadak. Ketergantungan Jambi pada pasokan luar daerah membuat harga sangat sensitif: begitu suplai tersendat, harga langsung melejit tak terkendali.

Sejarah data memperlihatkan bahwa pola ini sudah lebih dari satu dekade menjadi masalah klasik: setiap memasuki musim hujan atau ketika produksi daerah pengirim turun, Jambi selalu berada pada sisi penerima dampak.

Baca juga:  Kepala Bakeuda Jambi Jelaskan Soal Kurang Bayar DBH Tahun 2023

Contoh lonjakan hingga Rp120 ribu ini memperlihatkan bahwa problem pengendalian harga bukan sekadar isu curah hujan atau panen menurun, tetapi juga karena tidak adanya mekanisme stok buffer, cold storage yang memadai, atau rencana tanam yang terintegrasi antar-daerah. Bahkan sistem informasi harga harian maupun pantauan pasar lokal sering kali menjadi alarm paling awal—lebih cepat daripada data rata-rata panel pemerintah—karena menangkap gejolak di satu pasar spesifik yang sedang mengalami kelangkaan.

Melihat perjalanan panjang fluktuasi harga cabai dari 2015 hingga 2025, tampak jelas bahwa sistem pangan kita bekerja secara reaktif, bukan preventif. Lonjakan harga ekstrem seperti Rp120 ribu seharusnya tidak lagi menjadi kejutan tahunan bila koordinasi produksi dan distribusi diperkuat.

Baca juga:  Ekspor Kopi Arabika Jawa Tembus Pasar Dunia, PTPN IV Targetkan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah

Tanpa pembenahan tata niaga, perencanaan tanam, penyimpanan pasokan, dan integrasi pasokan antar-daerah, masyarakat Jambi akan terus menghadapi siklus yang sama: harga normal yang tampak stabil di data resmi, tetapi sesekali meledak di pasar lokal hingga berkali-kali lipat, menghantam ekonomi rumah tangga dan memicu inflasi daerah.

Kini menjadi semakin jelas bahwa lonjakan ini bukan semata persoalan musiman, melainkan cermin kegagalan struktural dalam menjaga ketersediaan pangan secara menyeluruh.