Oleh : Dr. Noviardi FerziĀ
TANYAFAKTA.CO – Penganugerahan Most Inspiring Tourism Leader 2025 kepada Gubernur Al Haris dalam ajang Wonderful Indonesia Award tampak megah, namun realitas pariwisata Jambi justru mengarah pada kesimpulan sebaliknya: tidak ada perubahan signifikan yang mampu menjadi bukti konkret inspirasi kepemimpinan di sektor ini. Hingga kini, jumlah kunjungan wisatawan ke Jambi belum menunjukkan lonjakan berarti. Untuk wisatawan mancanegara, angka Jambi masih berkutat di sekitar 4ā5 ribu wisman per tahun, jauh tertinggal dari Sumatera Barat yang menembus lebih dari 60 ribu, atau Sumatera Selatan dengan 25 ribu wisman pada periode yang sama. Untuk wisatawan domestik, Jambi berada di kisaran 2ā2,5 juta per tahun, angka yang nyaris stagnan dalam tiga tahun terakhir.
Tidak hanya kunjungan yang stagnan, tingkat hunian hotel (occupancy rate) di Jambi juga menjadi indikator kuat minimnya geliat pariwisata. Data BPS menunjukkan okupansi hotel berbintang di Jambi rata-rata hanya berada di kisaran 42ā48%, bahkan beberapa bulan sempat turun ke bawah 40%. Angka ini jauh dari provinsi sejenis: Sumbar konsisten berada di rentang 55ā60%, sementara Palembang bisa mencapai 58% pada periode puncak. Jika pariwisata benar-benar berkembang, hotel adalah sektor pertama yang merasakan dampaknya. Namun di Jambi, pergerakan hunian cenderung stagnanāsebuah tanda bahwa klaim kebangkitan pariwisata tidak tercermin pada data empiris.
Infrastruktur pariwisata Jambi pun belum menunjukkan kemajuan yang layak disebut inspiratif. Banyak destinasi unggulan seperti Danau Kaco, kawasan Air Terjun Telun Berasap, Candi Muaro Jambi, hingga kawasan wisata alam di Kerinci masih menghadapi persoalan klasik: akses jalan yang sempit dan rusak, minimnya fasilitas publik seperti toilet dan area istirahat, hingga ketiadaan pengelolaan profesional. Jambi masih belum memiliki satu destinasi yang benar-benar siap menjadi ikon nasional seperti Danau Toba, Mandalika, ataupun Mandeh di Sumbar. Ketertinggalan infrastruktur ini membuat daya saing pariwisata Jambi tertinggal jauh, terlepas dari berbagai klaim keberhasilan.
Persoalan makin kentara saat melihat konektivitas udara. Bandara Sultan Thaha hanya melayani rute utama seperti Jakarta dan Batam, ditambah beberapa rute tidak reguler yang kerap buka-tutup. Tidak ada penerbangan langsung dari kota besar lain seperti Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Padang, atau Pekanbaru. Dibandingkan provinsi sekitar yang sudah memiliki rute internasional maupun jaringan domestik luasāseperti Padang dengan rute ke Kuala Lumpur atau Pekanbaru dengan koneksi internasional dan berbagai penerbangan domestikāJambi berada jauh di belakang. Sebuah provinsi dengan konektivitas terbatas amat sulit mengembangkan pariwisata yang kompetitif.




Tinggalkan Balasan