Dari sisi kualitas dan daya dukung, Jambi juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Durasi tinggal wisatawan yang hanya sekitar satu setengah hari menggambarkan bahwa Jambi masih didominasi wisata singgah, bukan destinasi menetap. Infrastruktur, promosi, dan pemerataan kualitas layanan pariwisata belum sekuat Riau dan Sumsel yang memiliki pusat kegiatan ekonomi, akses udara dan laut yang lebih terbuka, serta investasi sektor pariwisata yang lebih massif. Dengan kondisi seperti itu, pertumbuhan tinggi Jambi lebih mencerminkan momentum awal kebangkitan pascapandemi daripada bukti bahwa provinsi ini telah melampaui kompetitornya.
Karena itu, meskipun pertumbuhan 79 persen patut diapresiasi sebagai sinyal positif, kesimpulan bahwa Jambi sudah “mengungguli” Riau dan Sumatera Selatan tidak dapat dibenarkan tanpa melihat konteks volume kunjungan, performa wisatawan mancanegara, dan faktor kualitas daya tarik wisata.
Pertumbuhan persentase hanya satu bagian kecil dari keseluruhan potret. Untuk menilai posisi Jambi secara objektif, dibutuhkan pembacaan data yang lebih menyeluruh agar analisis pariwisata tidak terjebak pada angka yang tampak besar tetapi tidak mencerminkan kekuatan riil di lapangan.




Tinggalkan Balasan