KETIKA PUBLIK KEHILANGAN KONTEKS

Di sinilah publik perlu lebih waspada. Penolakan investasi yang terus-menerus, tanpa kemampuan membedakan mana kritik lingkungan yang murni dan mana yang ditunggangi kepentingan, justru menciptakan paradoks. Investasi yang relatif lebih bertanggung jawab terhambat, sementara praktik-praktik lama yang merusak, ilegal, dan minim standar lingkungan tetap berjalan karena “sudah biasa” dan tidak mengusik kepentingan lokal tertentu.

Akibatnya, daerah tidak maju, lapangan kerja tidak tercipta, pendapatan daerah stagnan, dan lingkungan tetap rusak—bahkan tanpa pengawasan yang memadai.

MASALAH UTAMA: BUKAN LINGKUNGAN, TAPI TATA KELOLA

Persoalan mendasar di Jambi bukanlah pilihan antara investasi atau lingkungan. Itu dikotomi palsu. Masalah sesungguhnya adalah tata kelola: lemahnya keberpihakan terhadap hukum, ketidaktegasan menghadapi oknum, dan minimnya transparansi dalam menjelaskan investasi kepada publik.

Baca juga:  Ketergantungan Fiskal yang Dilembagakan

Ketika pemerintah daerah bersikap ambigu, aparat penegak hukum pasif, dan komunikasi publik dibiarkan kalah oleh opini emosional, ruang publik menjadi ladang subur bagi manipulasi persepsi. Dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak sedang diberdayakan, melainkan dimanfaatkan.

MENCERDASKAN PUBLIK: TUGAS KITA BERSAMA

Masyarakat Jambi berhak atas lingkungan yang sehat. Tetapi mereka juga berhak atas informasi yang utuh, jujur, dan berimbang. Publik perlu diajak memahami bahwa tidak semua penolakan adalah bentuk keberanian, dan tidak semua investasi adalah ancaman. Sikap kritis harus dibarengi dengan kecerdasan membaca konteks: siapa yang bersuara, atas nama apa, dan untuk kepentingan siapa.

Jika kita terus terjebak dalam permainan opini yang menyederhanakan persoalan, maka yang menang bukanlah lingkungan atau rakyat, melainkan mereka yang lihai bermain di wilayah abu-abu kekuasaan.

Baca juga:  Konflik Korporasi : Parak Laweh dan PT. SAS di Aur Kenali, Warning Dini bagi Pemerintah

Sudah saatnya Jambi keluar dari lingkaran ini. Lingkungan harus dijaga, investasi harus diawasi, tetapi permainan kotor yang bersembunyi di balik narasi moral juga harus dibongkar. Tanpa itu, kita hanya akan terus berputar di tempat—ramai berdebat, miskin kemajuan.

Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik, Pembangunan Infrastruktur dan Lingkungan