Menanggapi masukan terkait menu MBG yang dinilai monoton, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak menetapkan standar menu nasional, melainkan standar komposisi gizi.
“Di setiap SPPG ada ahli gizi yang menyusun menu berdasarkan potensi pangan lokal dan selera masyarakat. Kearifan lokal justru harus diangkat agar menu lebih variatif dan diterima penerima manfaat,” jelas Dadan.
Dadan juga menegaskan bahwa MBG menyasar seluruh kelompok sasaran, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak usia sekolah, termasuk santri dan anak di sekolah informal. Terkait kendala administrasi seperti NIK.
“Siapa pun anak Indonesia yang datang ke unit pelayanan, tidak usah tanya NIK-nya berapa, langsung berikan makan bergizi,” tutup Dadan.
Dengan anggaran MBG sebesar Rp335 triliun, BGN berharap program ini mampu meningkatkan kualitas gizi, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta memperkuat kualitas pendidikan nasional. (*)




Tinggalkan Balasan