Oleh : Moch Idris

TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Industri pertambangan batu bara di Provinsi Jambi kembali berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, komoditas yang dijuluki “emas hitam” ini merupakan tulang punggung ekonomi daerah.

Namun di sisi lain, ia menyimpan bara konflik yang tak kunjung padam. Prahara terbaru kini mengerucut pada satu titik panas: Perseteruan antara rencana operasional PT Sinar Anugerah Sukses (SAS) di kawasan Aur Duri dengan eksistensi Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) di Pelabuhan Talang Duku yang selama ini menjadi penguasa jalur logistik.

Penulis mencoba melihat apakah kehadiran PT SAS adalah sebuah ancaman atau justru oase bagi karut-marut tata kelola batu bara yang selama ini menghantui masyarakat.

Baca juga:  Pakai Teknologi Ramah Lingkungan, Sahabat Alam Jambi Konsisten Kawal Investasi PT SAS

Jejak langkah PT Sinar Anugerah Sukses (SAS) di Jambi bukanlah sebuah perjalanan instan. Perusahaan ini membawa narasi besar tentang konsistensi investasi.

Sejak awal pendiriannya, manajemen PT SAS menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi untuk menjawab jeritan masyarakat akan kemacetan dan kecelakaan akibat truk batu bara yang menggunakan jalan umum.

Sejarah mencatat bahwa PT SAS datang dengan visi membangun pelabuhan modern dan jalur khusus. Mereka ingin menunjukkan bahwa industri ekstraktif bisa berjalan beriringan dengan ketertiban daerah. Konsistensi ini terlihat dari kegigihan perusahaan dalam menempuh jalur perizinan yang panjang, meskipun seringkali terjebak dalam pusaran sentimen sosial di wilayah Aur Duri.

Manajemen PT SAS berulang kali menegaskan bahwa mereka hadir bukan untuk mengeksploitasi semata, melainkan memajukan ekonomi Jambi melalui standarisasi logistik yang lebih manusiawi. Namun, visi ini kini terbentur pada tembok besar bernama resistensi yang diduga tidak hanya datang dari aspirasi murni masyarakat, tetapi juga dari gesekan kepentingan bisnis di sektor yang sama.

Baca juga:  Konflik Korporasi : Parak Laweh dan PT. SAS di Aur Kenali, Warning Dini bagi Pemerintah

Selama puluhan tahun, TUKS di Pelabuhan Talang Duku menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi pengapalan batu bara Jambi. Namun, operasional pelabuhan ini kini menyisakan tanda tanya besar dan “misteri” yang seringkali berujung maut dan luput dari para pemerhati lingkungan.

Seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk pengangkut batu bara menuju TUKS Talang Duku bukan lagi sekadar angka statistik. Ini adalah kegagalan sistem. Kendaraan-kendaraan raksasa dipaksa melintasi jalanan sempit yang berdampingan langsung dengan kendaraan pribadi dan motor warga. Akibatnya, nyawa menjadi taruhan harian.

Kritik tajam mengarah pada standar operasional TUKS di Talang Duku yang dianggap sudah usang dan tidak mampu lagi menampung lonjakan volume produksi. Debu hitam yang mengepung pemukiman warga di sekitar pelabuhan menunjukkan bahwa mitigasi lingkungan belum menjadi prioritas utama.

Baca juga:  WALHI JAMBI dan BPR Kembali Serukan Penolakan Terhadap PT SAS, Kini dengan Layang-Layang

Di sinilah letak anomali: Mengapa sistem yang jelas-jelas bermasalah dan belum memenuhi standar ini dibiarkan terus beroperasi tanpa ada tantangan yang berarti, sementara inovasi baru dari PT SAS justru dijegal habis-habisan?