“WASH Station bukan sekadar alat penghasil air bersih. Alat ini adalah infrastruktur kesehatan komunitas yang, begitu terpasang dan diserahkan sebagai aset BMN, akan menjadi tulang punggung sanitasi warga setempat dalam jangka panjang. Air yang dihasilkan dapat langsung diminum dan terbebas dari cemaran mikroba,” ungkap Ns. Riska Nasution, Koordinator Sanitasi dan Trauma Healing.
Pemeriksaan kualitas mikrobiologis air ditargetkan rampung sebelum 21 Februari 2026 sebagai indikator keberhasilan teknologi yang diterapkan. Sementara itu, layanan kesehatan juga menjangkau kelompok rentan melalui Posyandu Lansia dengan pendekatan Tele-Triage & Home Care Kit, yakni perangkat diagnostik digital portabel yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan langsung di rumah warga lanjut usia.
Apresiasi disampaikan Lurah Lambung Bukit, Andi Defriyan. Ia menilai kehadiran UNJA tidak hanya membantu pemulihan kesehatan warga, tetapi juga membangun ketangguhan masyarakat.
“Program ini membangun kapasitas masyarakat kami untuk lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan. Kami berharap kerja sama ini dapat berlanjut untuk mendukung pembangunan masyarakat yang berkelanjutan dan memulihkan kondisi warga akibat bencana ini,” harapnya.
Program ini juga berdampak pada sektor pendidikan. Di SD Bustanul Ulum Semen Padang, mahasiswa UNJA memberikan edukasi mitigasi bencana dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada siswa dan guru. Pengetahuan pertolongan pertama serta kesiapsiagaan bencana yang sebelumnya minim kini menjadi bekal penting bagi lingkungan sekolah.
“Pengetahuan tentang mitigasi bencana dan pertolongan pertama sangat kurang di lingkungan sekolah kami. Kehadiran tim mahasiswa berdampak UNJA memberikan pencerahan sekaligus keterampilan praktis yang sangat bermanfaat,” ungkap Eli Martinda, Kepala Sekolah SD Bustanul Ulum.
Menjelang akhir program, tim memastikan seluruh fasilitas dan sistem yang telah dipasang dapat dikelola secara mandiri oleh warga serta kader setempat. Kehadiran mahasiswa dan dosen UNJA di wilayah terdampak bencana ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan di ruang kelas, tetapi juga hadir menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, poin 6 tentang air bersih dan sanitasi, serta poin 13 tentang penanganan perubahan iklim sebuah ikhtiar kolektif yang menunjukkan bahwa sains, empati, dan kolaborasi dapat berjalan beriringan, bahkan di tengah lumpur sisa banjir. (*)





Tinggalkan Balasan