“Kawan-kawan, mari bergabung. Di sini kita punya Ayah yang menyayangi kita,” ajaknya.

Panggilan Hati Mendirikan Rumah Mans

Sementara itu, Abdullah Mansuri menjelaskan bahwa saat ini anggota Rumah Mans Indonesia telah mencapai sekitar 1.500 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ia mengatakan bahwa komunitas ini mulai berdiri sekitar lima tahun lalu dan baru membuka diri secara luas akhir-akhir ini kepada publik setelah memiliki merasa kuantitas dan kualitas komunitasnya sudah berdampak.

“Sejak berdiri lima tahun lalu, kami baru membuka diri ke publik setelah kami berjumlah banyak, mandiri, dan bisa berdampak bagi masyarakat lain,” jelasnya.

Ia juga menceritakan awal mula dirinya terdorong mendirikan Rumah Mans Indonesia. Sekitar tahun 2016, ia bertemu seorang perempuan bernama Tia di Medan yang mengalami kelumpuhan.

Baca juga:  Polda Jambi Gelar Apel Pergeseran Pasukan untuk Pengamanan PSU Pilbup Bungo

Tia meminta Mansur menjadi sosok ayah baginya agar ia memiliki semangat untuk bangkit dan kembali berjalan.

“Saya semangati dia. Dari yang awalnya lumpuh, dia akhirnya bisa berdiri dan berjalan dalam waktu sekitar satu setengah tahun,” ungkapnya.

Bahkan saat Mansur kembali berkunjung ke Medan, Tia berhasil menyambutnya dengan berlari dan memeluknya.

Peristiwa tersebut kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan membuat Mansur bertemu dengan banyak penyandang disabilitas lainnya yang memiliki kisah perjuangan serupa.

“Dari situ saya akhirnya memutuskan membuat tempat bagi mereka untuk saling bertemu dan menguatkan, yaitu Rumah Mans Indonesia,” tuturnya.

Ia menilai banyak penyandang disabilitas yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang, bahkan dari lingkungan terdekat mereka.

Baca juga:  Temui Fahrul Ilmi, Warga Kota Jambi Keluhkan Soal Konflik Lahan

“Banyak yang kehilangan sosok ayah, ada yang dibuang, dititipkan, bahkan terpaksa mengemis di pinggir jalan,” ujarnya.

Karena stigma masyarakat yang menganggap disabilitas sebagai “kutukan”, tidak sedikit dari mereka yang bahkan takut keluar rumah.

Melalui Rumah Mans Indonesia, Mansur berupaya mengubah stigma tersebut dengan menghadirkan ruang kasih sayang dan dukungan.

“Kita berbagi kasih sayang dan ketulusan di sini. Akhirnya mereka kembali percaya diri layaknya masyarakat pada umumnya,” katanya.

Ia berharap melalui Rumah Mans, penyandang disabilitas dapat bangkit dan mandiri.

“Melalui Rumah Mans ini sudah saatnya penyandang disabilitas bangkit, berjuang, dan mandiri,” tegasnya.

Di beberapa daerah, kata dia, anggota komunitas Rumah Mans bahkan telah berhasil menjadi atlet, penyanyi, penulis hingga pejabat.

Baca juga:  Kapolda Jambi dan Gubernur Jambi Sidak Pasar, Pastikan Harga Sembako Stabil Jelang Idul Fitri

“Semua itu bisa diraih karena semangat mereka yang luar biasa dan harus terus dijaga,” pungkasnya. (AAS)