Oleh : Andika Pratama
TANYAFAKTA.CO – Hari ini, saya tidak bisa diam melihat berita yang tengah mengguncang negeri kita – penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, wakil koordinator KontraS, pada malam Kamis (12/3) lalu setelah ia selesai merekam podcast tentang militerisme dan uji materi UU TNI di Jakarta Pusat. Sebagai seorang warga negara yang peduli, saya merasa ada sesuatu yang jangal dan sangat salah.
Andrie bukanlah sosok yang asing dalam perjuangan hak asasi manusia. Ia telah lama menjadi suara bagi mereka yang mungkin tak berdaya, mengangkat isu-isu yang kadang tidak nyaman untuk didengar oleh sebagian kalangan. Dan justru karena itu, ia kini harus merasakan sakit luar biasa akibat luka bakar hingga 24 persen di tubuhnya, bahkan harus berjuang untuk bisa melihat kembali. Apakah ini harga yang harus dibayar oleh mereka yang berani bersuara?
LBH Medan menyebutnya sebagai bentuk teror dan upaya pembungkaman, dan saya tidak bisa tidak setuju. Serangan semacam ini bukanlah kebetulan atau tindakan kriminal biasa. Saat seorang aktivis yang hanya ingin memperjuangkan hak keadilan, jutsu harus hidup dalam ketakutan, apa jadinya dengan ruaang kebebasan pada kita? Negara yang selalu kita banggakan sebagai negara demokrasi, pada setiap orangnya harus mempunyai hak untuk menyampaikan pandangan, termasuk kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah, hingga kini pelaku masih belum ditemukan. Padahal, rekaman CCTV sudah sangat beredar dan banyak pihak yang menuntut keadilan – mulai dari Menteri HAM Natalius Pigai, hingga tokoh publik seperti Felix Siauw dan Rocky Gerung. Felix bahkan menyebutkan kesamaan pola ini dengan kasus Novel Baswedan pada tahun 2017 lalu, dan ini yang membuat saya bertanya-tanya: apakah ada pola yang sengaja dibuat pada mereka yang berani bersuara merasakan ketakutan yang mendalam?
Kabar baiknya, Stafsus Wapres Achmad Adhitya telah memastikan pemerintah akan mengusut tuntas kasus ini, dan Menteri Koordinator Hukum Yusril Ihza Mahendra juga menyatakan bahwa ini bukan sekadar kriminalitas biasa melainkan ancaman bagi demokrasi. Semoga ini bukan bualan semata. Kita butuh tindakan nyata – pelaku harus ditangkap, dalangnya juga harus dibongkar, dan negara harus memberikan jaminan bahwa hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi.
Andrie mungkin sedang berjuang di rumah sakit, tapi perjuangannya tidak boleh terhenti sampai disini. Kasus ini harus menjadi titik balik bagi kita semua untuk menyadari bahwa kebebasan berpendapat bukanlah sesuatu yang bisa diambil dengan semana- mena. Ini adalah hak kita sebagai warga negara, dan kita semua harus melindunginya.
Apakah kita akan terus diam dalam melihat suara-suara kritis terus dibungkam, atau kita akan berdiri bersama untuk memastikan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan?




Tinggalkan Balasan