TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Perjalanan hidup Syamsurijal Tan menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak datang secara instan. Lahir dari keluarga sederhana di dusun, ia berhasil menapaki karier hingga menjadi profesor dan kini menjabat sebagai Ketua Senat di Universitas Jambi (UNJA).
Pria kelahiran Desa Sungai Medang, Kabupaten Kerinci, pada 13 Agustus 1958 ini tumbuh dalam lingkungan keluarga religius. Ayahnya merupakan pegawai negeri sekaligus ulama yang aktif mengisi pengajian, sementara sang ibu setia mendampingi kegiatan keagamaan tersebut.
Masa kecilnya jauh dari kemudahan. Untuk menempuh pendidikan dari SD hingga SMP di Sungai Penuh, ia harus berjalan kaki sejauh enam kilometer setiap hari di jalan yang belum beraspal. Bahkan, ia kerap menjinjing sepatu karena medan yang berlumpur dan berbatu.
“Orang mungkin melihat saya sekarang senang. Tapi kesenangan itu diberikan Allah karena usaha masa lalu yang penuh kesusahan,” ungkapnya.
Keterbatasan ekonomi membuatnya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Teknik Menengah (STM). Namun, tekad untuk kuliah tidak pernah padam. Ia kemudian menempuh pendidikan SMA selama satu tahun di Padang agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.
Pada 1979, ia diterima di Universitas Andalas dan menyelesaikan studi sarjana pada 1984. Setelah sempat bekerja di Jakarta, ia kembali menapaki dunia akademik sebagai dosen di Universitas Jambi pada 1986.
Perjalanan akademiknya terus berlanjut. Ia meraih gelar magister di Universitas Indonesia pada 1990 dan gelar doktor pada 1994. Selama di Jakarta, ia juga mengajar di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Trisakti.
Sekembalinya ke Jambi pada tahun 2000, kariernya terus berkembang. Ia pernah menjabat Ketua Jurusan, Ketua Program Magister, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, hingga dipercaya sebagai staf ahli gubernur dan Ketua Bappeda Kota Jambi.
Pengalaman kepemimpinannya semakin matang saat menjabat sebagai rektor di Universitas Muara Bungo selama tiga tahun. Hingga akhirnya, pada 2023, ia dipercaya menjadi Ketua Senat Universitas Jambi.
Menurutnya, keputusan untuk maju sebagai Ketua Senat dilandasi niat untuk memberi kontribusi bagi kampus.
“Filosofi hidup saya sederhana, kalau kita mampu memberi sesuatu untuk orang lain, maka kejarlah kesempatan itu. Melalui jabatan kita bisa memberikan solusi terbaik,” ujarnya.
Di balik kesuksesannya, keluarga menjadi sumber kekuatan utama. Ia dikaruniai tiga anak perempuan yang juga berkiprah di dunia profesional, serta enam cucu.
Meski usianya kini menginjak 68 tahun dan mendekati masa pensiun, Prof. Tan tetap aktif mengajar secara langsung di kampus. Ia memilih tetap bertatap muka dengan mahasiswa dibandingkan hanya mengajar secara daring.
Di akhir perbincangan, ia menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam meraih impian.
“My advice to everyone, semua peran dan kesuksesan ada di tangan kita. Jika menghadapi kegagalan, learn today, try again tomorrow, and tomorrow again. Don’t stop trying. Jangan berhenti mencoba sampai kamu sukses,” pesannya.
Kisah hidup Prof. Syamsurijal Tan menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan, melainkan bagian dari proses menuju pencapaian yang lebih besar. (*)





Tinggalkan Balasan