Noviardi menambahkan banyak stadion tua seperti Stadio Artemio Franchi atau Renato Dall’Ara tidak memiliki infrastruktur akademi yang memadai. Akibatnya, regenerasi pemain Italia berjalan lambat, sementara klub-klub Serie A lebih sering mengandalkan pemain impor.
Fenomena ini dinilai berkontribusi besar terhadap krisis tim nasional Italia yang kini gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara beruntun, yakni 2018, 2022, dan 2026. Bahkan, hanya sedikit pemain aktif Serie A yang memiliki pengalaman tampil di turnamen besar dunia.
Italia sendiri dipastikan kembali absen dari Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina di babak play-off. Kekalahan tersebut memperpanjang kemerosotan salah satu negara tersukses dalam sejarah sepak bola dunia yang sebelumnya pernah menjuarai Piala Dunia empat kali.
Noviardi menilai reformasi besar harus segera dilakukan, mulai dari percepatan pembangunan stadion milik klub, insentif bagi akademi, hingga kewajiban memberi menit bermain lebih besar kepada pemain muda lokal.
“Tanpa reformasi ekonomi sepak bola, Italia akan terus tertinggal. Kekuatan sepak bola modern bukan hanya soal pelatih atau taktik, tetapi juga soal model bisnis, infrastruktur, dan keberanian berinvestasi pada generasi muda,” tegasnya. (*)





Tinggalkan Balasan