TANYAFAKTA.CO, MUARO JAMBI – Penurunan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Muaro Jambi dari 7,97 persen pada 2022 menjadi 4,50 persen pada 2025 dinilai sebagai peringatan serius atas rapuhnya struktur ekonomi daerah.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menegaskan bahwa fluktuasi tajam tersebut tidak semata disebabkan oleh berkurangnya proyek infrastruktur, tetapi juga mencerminkan lemahnya efisiensi dalam pola belanja daerah.

Menurutnya, lonjakan pertumbuhan pada 2022 lebih banyak ditopang oleh ekspansi sektor konstruksi yang agresif. Namun ketika proyek besar seperti jalan tol dan stadion mulai berkurang, sektor tersebut justru mengalami kontraksi hingga minus 8,54 persen pada 2025, yang kemudian menyeret pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

“Ini menunjukkan bahwa kita terlalu bergantung pada belanja infrastruktur. Ketika proyek melambat, ekonomi langsung kehilangan tenaga. Artinya, fondasi pertumbuhan kita belum kuat,” ujarnya, di Jakarta (13/4).

Baca juga:  Step Up dengan Generasi Terbaru, All New Honda Vario 125 Semakin Keren dan Sporti

Ia menjelaskan, meskipun sektor perdagangan besar dan eceran masih tumbuh 8,85 persen, sektor informasi dan komunikasi 8,42 persen, serta transportasi dan pergudangan 7,53 persen, kontribusi sektor-sektor tersebut belum cukup untuk menahan tekanan karena belum didukung oleh efisiensi sistem ekonomi yang memadai.

Lebih lanjut, struktur ekonomi Muaro Jambi yang masih didominasi sektor pertanian juga menjadi tantangan tersendiri. Dari total PDRB ADHB sebesar Rp35,88 triliun pada 2023, sekitar Rp16,31 triliun berasal dari sektor pertanian, yang dinilai masih memiliki keterbatasan dalam menciptakan nilai tambah tinggi.