“Saat ini politik kita tidak lagi berbicara soal ide dan gagasan, tetapi sudah mengarah ke politik transaksional. Belum lagi intervensi asing, serta ekonomi yang masih dipengaruhi kapitalisme, dan kebudayaan yang tergerus oleh globalisasi,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama agar cita-cita para pendiri bangsa dapat tetap terwujud.
Terkait marhaenisme, Samsul Ridwan menegaskan bahwa konsep tersebut harus dimaknai secara kontekstual sesuai perkembangan zaman.
“Kaum marhaen hari ini tidak hanya petani yang memegang cangkul, tetapi juga nelayan, pengemudi ojek online, dan seluruh kelompok masyarakat yang termarjinalkan. Kita harus tegas berpihak kepada mereka dengan perjuangan yang dinamis,” pungkasnya.
Di sisi lain, Ketua DPC GMNI Jambi, Ludwig Syarif Sitohang, menyampaikan bahwa tema “Rediscovery of Our Revolution” bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk kembali pada nilai-nilai dasar perjuangan organisasi.
“Gerakan harus kembali menapakkan pijakan pada ajaran Bung Karno, yakni marhaenisme, untuk mewujudkan sosialisme Indonesia. Kita tidak boleh jauh dari itu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa GMNI harus tetap konsisten sebagai organisasi perjuangan yang berpihak kepada rakyat dan berperan aktif dalam menjawab persoalan sosial di tengah masyarakat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua II DPRD Provinsi Jambi Samsul Ridwan, Asisten II Setda Provinsi Jambi Syamsurizal, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Jambi Prof. Fauzi Syam, serta perwakilan Polda Jambi dari Ditbinmas.
Hadir juga beberapa organisasi mahasiswa seperti PMKRI, GMKI, IMM, PMII, serta beberapa organisasi mahasiswa lainnya. (AAS)



Tinggalkan Balasan